YOGYAKARTA – wartaekspres.com - Selama kurun waktu
kurang lebih empat tahun pemerintahan Jokowi, kami melihat bahwa pembangunan
infrastruktur di Indonesia sudah mulai merata dan berjalan dengan semestinya,
ungkap peneliti bidang infrastruktur Dr. Murti Lestari, M.Si kepada media
di sela kegiatannya, Sabtu (16/2).
Hal ini ia kemukakan dalam sudut pandangnya terkait debat Presiden putaran
ke-2 yang rencananya akan berlangsung Minggu (17/2) dengan mengusung tema
Energi, Ketahanan Pangan, Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup dan Infrastruktur.
Seiring berjalannya waktu, hal ini dibuktikan dengan maksimalnya beberapa
pembangunan infrastruktur akses pokok, diantaranya adalah jalan dan jembatan.
Berdasarkan data tahun 2018, saat ini telah dibangun sebanyak 3.432 km jalan
biasa, jalan tol sepanjang 947 km, jembatan 39,8 km, dan jembatan gantung 134
unit, yang tentunya jumlah ini akan terus bertambah di tahun yang akan datang.
“Hal ini adalah langkah positif yang dilakukan oleh pemerintah dalam
mengembangkan pembangunan untuk kepentingan masyarakat di era kepemimpinan
Jokowi,” lanjut Murti.
Sebagai contoh, pembangunan jalan tol dari Jakarta menuju Surabaya. Saat
ini Jakarta-Surabaya dapat ditempuh hanya 10 jam. Pada dasarnya memang jalan
tol ini berbayar. Namun demikian, jalan tol dibangun sebagai jalan alternatif,
sehingga masyarakat berhak untuk menentukan jalan mana yang akan ditempuh,
apakah jalan biasa, atau melalui tol yang berbayar.
“Perlu kita garis bawahi, bahwa dibangunnya jalan tol tanpa menutup akses
melalui jalan nasional atau jalan biasa, jadi tidak diharuskan bagi masyarakat
Indonesia untuk melalui jalan tol. Masyarakat tetap bisa melalui jalan biasa,
namun melewati beberapa lampu merah, keramaian pasar, bubaran pabrik, sekolah,
dan lain sebagainya yang menyebabkan lalu lintas sedikit tersendat,” terangnya.
Perlu kita ketahui, bahwa pembangunan jalan tol bukan hanya di Pulau Jawa
saja, tetapi juga meliputi Pulau Sumatera, mulai dari Lampung, Sumatera Selatan
hingga ke Sumatera Utara serta menyusul di pulau lain. Jika hal ini dikatakan
sebagai pemborosan anggaran negara, maka kami menampik hal itu. Kenapa?
Karena, jika tidak dibangun dari sekarang, maka tidak akan ada investor
yang mau berinvestasi di daerah yang sulit dijangkau karena aksesnya terbatas.
Oleh sebab itu, lebih baik dibangun dari sekarang agar anak cucu kita nanti
akan mendapatkan kemudahan dalam mengembangkan berbagai aspek penunjang
kemajuan bangsa.
“Oleh karena itu, adanya jalan tol, adalah sebagai langkah untuk
mempermudah dan meningkatkan pemerataan pembangunan di setiap daerah di
Indonesia,” papar wanita kelahiran Salatiga 31 Maret 1966 yang menyelesaikan
pendidikannya S1 hingga S3 di bidang Ekonomi Industri Fakultas Ekonomi
Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Murti juga menambahkan, bahwa selain jalan, ada juga akses pelabuhan.
Dimana perencanaan pembangunan pelabuhan di Indonesia harus mampu bersaing dg
Singapura, namun pada pelaksanaannya belum pernah terwujud. Hingga pada
pemerintahan Presiden Jokowi, pada bulan April, 2017, Indonesia memiliki
pelabuhan yang mampu disandari kapal raksasa setara dengan pelabuhan Singapura
yaitu Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara.
Dengan merevitalisasi pelabuhan Tanjung Priok, maka kapal-kapal raksasa
dengan kapasitas konteiner 8.500 TEUs dapat berlabuh. April 2017 untuk pertama
kalinya dalam sejarah kapal raksasa CMA CGM merapat di Jakarta dan
mengangkut kontainer 2.300 TEUs, dimana selama ini mereka hanya dapat berlabuh
di Singapura.
Bukan hanya meningkatkan kapasitas tempat bersandarnya kapal, pelabuhan
Tanjung Priok juga memperbaiki proses bongkar muat di pelabuhan tersebut.
Sehingga proses bongkar muat menjadi jauh lebih singkat.
Kemudian juga tol laut, dimana adanya tol laut adalah sebagai sarana untuk
mempermudah akses pemerataan pembangunan di pulau-pulau yang terpencil agar
terjangkau dan semakin berkembang, contohnya di Pulau Sumba. Sebelum adanya tol
laut, pulau ini hanya disinggahi kapal 2 minggu sekali, setelah adanya tol
laut, pulau Sumba kini disinggahi kapal tiga kali dalam seminggu.
Indonesia juga sedang membangun 2 pelabuhan hub Internasional yaitu di
Kuala Tanjung dan Bitung. Pelabuhan ini dibangun dengan kapasitas yang cukup
besar sehingga kapal-kapal raksasa bisa bersandar. Dua pelabuhan hubungan internasional
ini disiapkan untuk menunjang pembangunan di wilayah barat dan timur
sehingga pembangunan tidak terkonsentrasi di Jawa, dan pemerataan pembangunan
lebih nyata dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Di Bitung juga akan dibangun rel kereta api untuk lebih memudahkan akses di
daerah tertinggal. Selain itu juga ada bandara udara yang sudah mulai dibangun
di beberapa tempat. Tercatat hampir 408 bandara yang siap direvitalisasi maupun
dikembangkan. Misalnya bandara yang fenomenal di Kerta Jati dimana untuk
pertama kalinya bandara ini di kelola oleh BUMD (Badan Usaha Milik Daerah). Hal
ini untuk meningkatkan pemberdayaan di daerah sehingga menjadi percontohan di
daerah lain.
Demikian juga infrastruktur irigasi yang sudah dibangun dan direvitalisasi
salah satunya adalah Waduk Jati Gede yg disiapkan untuk mengairi sawah di
wilayah Jawa Barat sbg lumbung pangan, sekaligus pengendalian banjir di wilayah
Pantura. (Ardhie)

Mantap. .
BalasHapusKalau Jokowi terpilih lagi maka semua program akan terrealisasi kalsu tidak ya jangan mimpi bri....
#SalamJempol