Sabtu, 16 Februari 2019

Infrastruktur Indonesia Terus Berkembang Ke Arah Yang Lebih Baik


YOGYAKARTA – wartaekspres.com - Selama kurun waktu kurang lebih empat tahun pemerintahan Jokowi, kami melihat bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia sudah mulai merata dan berjalan dengan semestinya, ungkap peneliti bidang infrastruktur Dr. Murti Lestari, M.Si kepada media di sela kegiatannya, Sabtu (16/2).
Hal ini ia kemukakan dalam sudut pandangnya terkait debat Presiden putaran ke-2 yang rencananya akan berlangsung Minggu (17/2) dengan mengusung tema Energi, Ketahanan Pangan, Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup dan Infrastruktur.
Seiring berjalannya waktu, hal ini dibuktikan dengan maksimalnya beberapa pembangunan infrastruktur akses pokok, diantaranya adalah jalan dan jembatan. Berdasarkan data tahun 2018, saat ini telah dibangun sebanyak 3.432 km jalan biasa, jalan tol sepanjang 947 km, jembatan 39,8 km, dan jembatan gantung 134 unit, yang tentunya jumlah ini akan terus bertambah di tahun yang akan datang.
“Hal ini adalah langkah positif yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengembangkan pembangunan untuk kepentingan masyarakat di era kepemimpinan Jokowi,” lanjut Murti.
Sebagai contoh, pembangunan jalan tol dari Jakarta menuju Surabaya. Saat ini Jakarta-Surabaya dapat ditempuh hanya 10 jam. Pada dasarnya memang jalan tol ini berbayar. Namun demikian, jalan tol dibangun sebagai jalan alternatif, sehingga masyarakat berhak untuk menentukan jalan mana yang akan ditempuh, apakah jalan biasa, atau melalui tol yang berbayar.
“Perlu kita garis bawahi, bahwa dibangunnya jalan tol tanpa menutup akses melalui jalan nasional atau jalan biasa, jadi tidak diharuskan bagi masyarakat Indonesia untuk melalui jalan tol. Masyarakat tetap bisa melalui jalan biasa, namun melewati beberapa lampu merah, keramaian pasar, bubaran pabrik, sekolah, dan lain sebagainya yang menyebabkan lalu lintas sedikit tersendat,” terangnya.
Perlu kita ketahui, bahwa pembangunan jalan tol bukan hanya di Pulau Jawa saja, tetapi juga meliputi Pulau Sumatera, mulai dari Lampung, Sumatera Selatan hingga ke Sumatera Utara serta menyusul di pulau lain. Jika hal ini dikatakan sebagai pemborosan anggaran negara, maka kami menampik hal itu. Kenapa?
Karena, jika tidak dibangun dari sekarang, maka tidak akan ada investor yang mau berinvestasi di daerah yang sulit dijangkau karena aksesnya terbatas. Oleh sebab itu, lebih baik dibangun dari sekarang agar anak cucu kita nanti akan mendapatkan kemudahan dalam mengembangkan berbagai aspek penunjang kemajuan bangsa.
“Oleh karena itu, adanya jalan tol, adalah sebagai langkah untuk mempermudah dan meningkatkan pemerataan pembangunan di setiap daerah di Indonesia,” papar wanita kelahiran Salatiga 31 Maret 1966 yang menyelesaikan pendidikannya S1 hingga S3 di bidang Ekonomi Industri Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Murti juga menambahkan, bahwa selain jalan, ada juga akses pelabuhan. Dimana perencanaan pembangunan pelabuhan di Indonesia harus mampu bersaing dg Singapura, namun pada pelaksanaannya belum pernah terwujud. Hingga pada pemerintahan Presiden Jokowi, pada bulan April, 2017, Indonesia  memiliki pelabuhan yang mampu disandari kapal raksasa setara dengan pelabuhan Singapura yaitu Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara.
Dengan merevitalisasi pelabuhan Tanjung Priok, maka kapal-kapal raksasa dengan kapasitas konteiner 8.500 TEUs dapat berlabuh. April 2017 untuk pertama kalinya dalam sejarah kapal raksasa CMA CGM  merapat di Jakarta dan mengangkut kontainer 2.300 TEUs, dimana selama ini mereka hanya dapat berlabuh di Singapura.
Bukan hanya meningkatkan kapasitas tempat bersandarnya kapal, pelabuhan Tanjung Priok juga memperbaiki proses bongkar muat di pelabuhan tersebut. Sehingga proses bongkar muat menjadi jauh lebih singkat.
Kemudian juga tol laut, dimana adanya tol laut adalah sebagai sarana untuk mempermudah akses pemerataan pembangunan di pulau-pulau yang terpencil agar terjangkau dan semakin berkembang, contohnya di Pulau Sumba. Sebelum adanya tol laut, pulau ini hanya disinggahi kapal 2 minggu sekali, setelah adanya tol laut, pulau Sumba kini disinggahi kapal tiga kali dalam seminggu.
Indonesia juga sedang membangun 2 pelabuhan hub Internasional yaitu di Kuala Tanjung dan Bitung. Pelabuhan ini dibangun dengan kapasitas yang cukup besar sehingga kapal-kapal raksasa bisa bersandar. Dua pelabuhan hubungan internasional ini disiapkan untuk menunjang  pembangunan di wilayah barat dan timur sehingga pembangunan tidak terkonsentrasi di Jawa, dan pemerataan pembangunan lebih nyata dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Di Bitung juga akan dibangun rel kereta api untuk lebih memudahkan akses di daerah tertinggal. Selain itu juga ada bandara udara yang sudah mulai dibangun di beberapa tempat. Tercatat hampir 408 bandara yang siap direvitalisasi maupun dikembangkan. Misalnya bandara yang fenomenal di Kerta Jati dimana untuk pertama kalinya bandara ini di kelola oleh BUMD (Badan Usaha Milik Daerah). Hal ini untuk meningkatkan pemberdayaan di daerah sehingga menjadi percontohan di daerah lain. 
Demikian juga infrastruktur irigasi yang sudah dibangun dan direvitalisasi salah satunya adalah Waduk Jati Gede yg disiapkan untuk mengairi sawah di wilayah Jawa Barat sbg lumbung pangan, sekaligus pengendalian banjir di wilayah Pantura. (Ardhie)

1 komentar:

  1. Mantap. .
    Kalau Jokowi terpilih lagi maka semua program akan terrealisasi kalsu tidak ya jangan mimpi bri....
    #SalamJempol

    BalasHapus

Oknum Perangkat Desa Ditangkap Satreskrim Polres Purworejo

PURWOREJO - wartaexpress.com - Man (35) warga Desa Lubang Sampang yang juga merupakan Perangkat Desa diamankan Satreskrim Polres Purworejo....