JAKARTA - wartaekspres - Di tengah berbagai
isu politik yang panas, PDI Perjuangan (PDIP) dan organisasi sayap kepemudaan
Nahdatul Ulama (NU), GP Ansor saling menguatkan dan sepakat untuk membangun
bangsa dalam kerangka Pancasila demi Indonesia Raya.
Hal itu terungkap
ketika Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto
melakukan pertemuan dengan pimpinan GP Ansor di kantornya, di Jalan Kramat
Raya, Jakarta Pusat, Kamis malam.
Hasto yang didampingi
sejumlah kader PDIP yang berasal dari unsur NU seperti Gus Nabil Haroen dan
Sekjen Bamusi Falah Amru, diterima oleh jajaran GP Ansor yang dipimpin Ketuanya
Gus Yaqut Cholil Qoumas.
Pertemuan diantara
kedua belah pihak dilaksanakan secara tertutup. Usai pertemuan, Hasto
menyatakan dirinya hadir untuk bersilaturahmi dengan GP Ansor yang berlangsung
dua jam.
Pertemuan itu menjadi
sarana bagi Hasto untuk memaparkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP
yang dilaksanakan pada 10-12 Januari lalu. Di Rakernas itu, PDIP mendorong
sebuah konsep haluan negara yang berakar dari kepribadian bangsa.
"Intinya,
seluruh gerakan Indonesia Maju harus berbasis penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dimana ini relevan bagi anak muda. Maka itu kami sampaikan ke GP
Ansor," kata Hasto dalam keterangan tertulisnya.
Hal itu sejalan juga
dengan pesan dari Proklamator RI Bung Karno, pendiri bangsa yang juga inspirasi
bagi PDIP.
"Bung Karno
mengatakan, Islam harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengejar
ketertinggalannya. Dan ternyata ini diterima baik oleh Ansor karena sebenarnya
kita ini saudara sekandung sejak perjuangan berdirinya Indonesia," kata
Hasto.
Hasto mengakui, bahwa
pertemuan ini menghasilkan sebuah komitmen bekerja sama dalam kaderisasasi
kepemimpinan bersama. "Ini penting karena tulang punggung ke depan adalah
kaum muda Indonesia. Dari dulu sejarah sudah menunjukkan kebersamaan Nasionalis
dan NU," tegas Hasto.
Sementara itu, Gus
Yaqut mengatakan, bahwa pihaknya menerima banyak ilmu lewat pertemuan dengan
Hasto bersama jajarannya, khususnya mengenai kebangsaan dan peradaban. "Kami
mendapat inspirasi membangun kembali peradaban Indonesia yang dulu pernah
maju," ujar Gus Yaqut.
Ia mengakui, bahwa
kebersamaan PDIP dengan NU bukanlah isapan jempol karena keduanya seakan selalu
diikat oleh rasa senasib sepenanggungan yang kuat. Misalnya, kelompok
Nasionalis dan NU selalu menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok yang tak memiliki
jejak sejarah bangsa ini. Ada saja kelompok yang mengadu-domba Islam, dalam hal
ini NU, dan kelompok Nasionalis seperti PDIP.
"Malam ini
menjadi penguatan komitmen agar itu tak terjadi. Kita rasakan betul itu. Selama
ini Islam dibenturkan dengan Pancasila, dan kami sepakat menyelesaikan ini
lewat kerja bersama," tukas Yaqut.
Di tempat yang sama,
Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Gus Nabil Haroen, menambahkan, bahwa sebagai
warga NU dan anggota Fraksi PDIP, dirinya sudah merasa partai itu sebagai rumah
sendiri. "Saya merasa di PDI Perjuangan itu seperti di rumah sendiri,
bukan di rumah orang lain," kata Gus Nabil.
Lebih jauh, untuk
kerja sama PDIP dan Ansor, Gus Nabil memastikan itu adalah hal konkret dan
secara ideologis, takkan berbenturan. "Karena kami sama-sama memiliki
frame kebangsaan, dan yang biasa menganggu kami juga sama," tuturnya. (A. Yahya)



menang berapapun di bayar
BalasHapusayo segera bergabung bersama kami di bandar365*com
WA : +85587781483