BATAM - wartaekspres - Polemik Korban longsor di Tanjung Uma,
Kota Batam berbuntut panjang dan jadi bahan perbincangan netizen, Rabu (05/02/2019).
Informasi yang
simpangsiur di kalangan netizen Kota Batam hari ini resmi dimediasi oleh pihak Kecamatan
Lubuk Baja antara keluarga korban, Paguyuban Persatuan Pemuda Indragiri Hilir
dengan pihak pengurus posko bantuan korban longsor, Tagana dan masyarakat
setempat.
Dalam pertemuan
tersebut, pihak keluarga almarhumah (Sarinah) dan keluarga besar PPI Kota Batam
meminta klarifikasi terkait isu yang sedang hangat diperbincangkan publik,
yaitu adanya korban meninggal pada kejadian bencana longsor Tanjung Uma.
Sementara itu, pada
pertemuan yang difasilitasi oleh Kecamatan Lubuk Baja dipimpin oleh Kasubag
Umum dan Kepegawaian, Abdul Malik yang dihadiri oleh mewakili Danramil,
kepolisian setempat, Kepala Upt Puskesmas Lubuk Baja dan Lurah Tanjung Uma,
Tagana dan masyarakat yang ikut terlibat dalam kepengurusan Posko.
Dalam pertemuan itu telah
dijelaskan oleh beberapa pihak terkait yang mencantumkan nama Sarinah sebagai
korban longsor Tanjung Uma. Berdasarkan keterangan yang diduga majikan Sarinah
(tempat almarhum meninggal) menjelaskan, bahwa jam 05.00 Wib mereka masih
berbincang-bincang dengan almarhum, sementara kejadian longsor sekitar jam
03.00 Wib.
“Jadi tuduhan yang
mengatakan kalau Sarinah meninggal kerena longsor adalah orang-orang yang
sengaja mau mengambil kesempatan dalam musibah longsor Tanjung Uma,” ungkap Hery
Marhat.
Dalam kesempatan yang
sama, berdasarkan keterangan dari pihak Tagana menjelaskan, bahwa pendirian
posko bantuan di Tanjung Uma merupakan bagian dari tugas kemanusiaan yang
diemban oleh Tagana dan di suppot oleh Dinas Sosial Kota Batam.
“Pencatutan nama Sarinah
sebagai korban meninggal pada bencana longsor merupakan hasil musyawarah
masyarakat, sebab waktu bermusyawarah dengan masyarakat sebagian warga disampaikan
bahwa Sarinah diduga mengidap penyakit jantung,” pungkasnya.
Penjelasan yang sama
disampaikan oleh Sekretaris Posko, Juned Ginting mengatakan, bahwa pencatutan
nama Sarinah sebagai korban bencana longsor merupakan hasil kesepakatan dengan
warga saat bermusyawara.
Hery Marhat selaku
pendiri Paguyuban PPI Kota Batam juga menyampaikan, bahwa kredibilitas kami
dari PPI dengan adannya isu ini sangat dirugikan, karena isu yang beredar di
kalangan netizen. “Data Posko yang digunakan diduga fiktif, ini harus diluruskan.
Kami minta kepada pihak terkait untuk meluruskan dengan sebenar-benarnya jangan
sampai ada pihak lain yang menyalahgunakan isu ini untuk kepentingan pribadi,”
ujarnya.
Ketua Paguyuban PPI, Rasidi,
mengaku sangat kecewa dengan pemberitaan sebelumnya yang membawa-bawa nama Sarinah.
“Saudara kami itu meninggal karena sakit dan dapat dibuktikan dengan data yang
kami miliki, lantas siapa yang menulis di papan informasi bahwa Sarinah
meninggal karen serangan jantung, apakah bisa dibuktikan dengan hasil otopsi
atau visum, kami berharap agar ada yang bisa bertanggung jawab atas pencatutan
nama almarhumah,” tegas Rasidi. (Lukas)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar