TASIKMALAYA - wartaekspres - Destinasi
wisata Batu Mahpar atau dalam bahasa Sunda disebut ‘Batu Ngampar‘
(hamparan batu) berada di kaki Gunung Galunggung, tepatnya di Kampung
Pangkalan, Desa Sukamulih, Kec. Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, merupakan
objek wisata alam yang sangat unik, menarik, asyik, dan eksotis yang cocok
untuk tempat liburan keluarga.
Tempatnya pun sangat
nyaman, dengan suhu udara pegunungan yang sejuk akan membuat para pengunjung
betah untuk berlama-lama menikmati panorama alam yang indah. Apalagi pengunjung
bisa menikmati berbagai fasilitas yang cukup lengkap tersedia di objek
wisata Batu Mahpar tersebut, di antaranya air terjun, air sungai yang
jernih, artefak-artefak yang menyerupai binatang, rumah pohon, tugu kujang,
batu cinta, taman cinta, pintu pangit, saung botram, kolam renang, dan juga
Bumi Perkemahan.
Pengunjung juga dapat
main air di sungai yang jernih dan berenang di kolam yang tersedia, juga dapat
menikmati panorama alam khas Priangan yang indah sambil melepas lelah setelah
menjalankan aktivitas atau refreshing bersama keluarga.
Itu semua dirasakan
oleh kru Media Cyber88 dan Ketua Umum Perkumpulan Warung Nusantara 88, Edwin
Fentando bersama anggotanya, saat berkunjung di objek wisata Batu Mahpar dan
berdialog langsung dengan Irjen. Pol. (Purn) DR. Drs. H. Anton Charliyan,
M.P.K.N, sebagai pemilik objek wisata tersebut.
Luas area objek
wisata ini sekitar 4 hektar lebih dan terus dilakukan penataan oleh pengelola,
baik sarana, prasarana, maupun fasilitasnya, agar lebih menarik lagi bagi
pengunjung.
Beliau (Anton
Charliyan-red) juga menyampaikan, bahwa akan juga dibangun “Papayung Agung”
tempat dilakukannya musyawarah di lapangan yang berada di kawasan itu.
Objek wisata yang
kini semakin favorit bagi para wisatawan itu, awalnya merupakan tempat
‘paniisan‘ peristirahatan keluarga besar beliau yang pada saat itu masih
menjabat Kapolwil Priangan, kemudian mendapat tugas ke Mabes Polri, lantas ke luar
Pulau Jawa termasuk menjadi Kapolda Sulsel.
Setelah kembali ke
tanah Pasundan, menjabat Kapolda Jawa Barat, maka beliau menata lahan miliknya
menjadi sebuah objek wisata yang menarik bernama objek wisata alam Batu
Mahpar dan dibuka untuk masyarakat umum.
Adapun alasan Jendral
Polisi yang “nyunda” itu membuka lahan miliknya dijadikan objek wisata dan
dibuka untuk umum, karena di sini banyak peninggalan sejarah berkaitan dengan
Kerajaan Galunggung.
Abah Anton, panggilan
akrabnya, berharap agar masyarakat mengetahui sejarah masa lampau dan Batu
Mahpar bakal menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten
Tasikmalaya, Jawa Barat.
Menurut Abah Anton,
Batu Mahpar merupakan sebuah sungai yang dasarnya adalah batu yang sangat lebar
sepanjang sungai sampai sisi yang merupakan bekas aliran lava yang mengeras
menjadi batu. Sungai ini merupakan sungai kering yang hanya teraliri air jika
musim penghujan saja, dan di beberapa titik terdapat genangan air. Batu Ngampar
itu juga merupakan parit Gunung Galunggung pada abad ke-12 sepanjang 15 Km
peninggalan Ratu Galunggung yang menjadikan wilayah kerajaan “Saung Galah Bebas
Banjir” sampai saat ini.
Kecamatan Sariwangi
menyimpan banyak peninggalan sejarah. Konon pusat kebataraan dan Kerajaan
Galunggung berlokasi di Kecamatan Leuwisari, Desa Linggawangi (Rumantak) dan
Pasir Geger Hanjuang. Sebagian aktivitasnya dilaksanakan di Kecamatan
Sariwangi, yakni di Batu Mahpar yang berlokasi di perbukitan kaki Gunung
Galunggung dan di Desa Sukamulih Kecamatan Sariwangi, yaitu Walahir.
Di lokasi tersebut
terdapat beberapa peninggalan, antara lain makam para leluhur Galunggung
periode Islam dan Batu Mahpar.
Menurut penuturan
salah seorang masyarakat, bahwa Batu Mahpar merupakan tempat upacara ritual
pada jaman Kerajaan Galunggung. Sedangkan situs Walahir lokasinya cukup
berdekatan dengan situs Geger Hanjuang dan Situs Linggawangi. Hal ini sangat
memungkinkan aktivitas keagamaan dilakukan di kedua lokasi tersebut, saat
lokasi tersebut banyak dikunjungi baik untuk kepentingan penelitian maupun
ziarah.
Beberapa makam yang
sering diziarahi antara lain Eyang Latifah (ahli Qiro’ah), Eyang
H. Sembah Dalem Wirakusumah, Eyang Gorah, Eyang Mutholib, Eyang
Kenong, Eyang Rajawisuta, Eyang Wirakusumah, Eyang
Panjisena, Eyang Panjiseta, Eyang Tubagus Lanjar, Eyang Dayang
Sumedang, Eyang Sumedang, Eyang Dalem Cigeuleum, Eyang
DaleumTegal Munding, Ciung Wanara, Eyang Dalem Peundeuy, Eyang
Dalem Gagak, Ambu Sumaerah Wirakusumah, Indung Ciut/Pajaji
Sakti, Eyang Wira Buana, Eyang Ali, Eyang H. Tubagus Urif,
dan Kiayi Ahmad, Eyang Sembah Dalem Wiradadaha.
Beliau juga yang
semasa menjabat di institusi kepolisian, dan sampai sekarang juga aktif membina
berbagai perkumpulan, baik itu perkumpulan masyarakat maupun kelompok-kelompok
budaya yang ada di Jawa Barat, dan salah satunya beliau adalah sebagai Pendiri
dan Pembina perkumpulan Warung Nusantara 88.
Beliau mengungkapkan,
bahwa menapaki jejak sejarah masa lampau merupakan cerminan bagi kita yang
hidup di masa kini untuk mengambil pelajaran bagaimana kearifan lokal telah
menjadikan pendahulu kita mencapai kegemilangannya, sesuai peribahasa Sunda
“Moal Aya Nu Kiwari Lamun Teu Aya Nu Bihari (Tidak akan ada saat ini bila
tidak ada masa lalu)”.
Beliau yang merupakan
sosok pemersatu perkumpulan-perkumpulan yang ada di Jawa Barat dan pada saat
beliau menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat pernah menggelar Sawala
Kebangsaan yang diikuti oleh seluruh perkumpulan di Jawa Barat, juga
mempersilahkan kepada perkumpulan Warung Nusantara 88 dan perkumpulan lainnya,
kalau mau mengadakan kegiatan silaturahmi atau pelatihan-pelatihan, bisa
mempergunakan tempat tersebut, ujarnya.
Dalam upaya menapaki
jejak sejarah masa lampau tersebut, Abah Anton dan rengrengan-nya telah
menyelenggarakan Olimpiade Batu Mahpar, bertempat di objek wisata Batu Mahpar
Galunggung pada bulan November 2018 lalu.
“Dalam olimpiade
tersebut, digelar berbagai kaulinan barudak (permainan anak-anak)
masa lalu serta seni budaya khas Sunda (pencak silat, calung, angklung, dll)
maupun bersifat Islami (kontes qasidah rebana, marawis, barjanji, dll) yang pesertanya
dari seluruh pelosok Jawa Barat.
“Dengan diadakannya
Olimpiade Batu Mahpar Galunggung tersebut, maka beliau berharap kebersamaan dan
persatuan sejak dini terus ditingkatkan dan kaulinan barudak maupun
seni budaya Sunda yang kini hampir punah akan kembali dikenal anak anak ‘zaman
now‘ dan mudah-mudahan akan terlestarikan,” pungkasnya. (Den’s/Pena Sukma)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar