Rabu, 15 Januari 2020

Perjuangan Kaum Disibilitas Yang Tertindas Di Jabar


BANDUNG - wartaekspres – Terkait permasalahn yang sedang dialami, penghuni Wiyataguna menyampaikan surat terbuka yang pernyataan; walau kami telah diusir paksa oleh para pegawai (ASN) Wyata Guna yang tersistematis dan masif, dimana Panti Sosial Bina Netra yang telah dipaksa pula fungsinya menjadi balai, namun kami terus bertahan walau terlunta-lunta diabaikan layaknya gelandangan.
Kami penghuni Wiyataguna berjumlah 30 orang, sekarang posisi terusir dan tak diberi pintu lagi untuk bernaung dari dinginnya malam dan teriknya siang, karena pintu gerbang panti ditutup serta dilengkapi oleh aparat seakan kami penjahat yang meresahkan.
Memang sejak panti dirubah menjadi balai, kami tidak dipelihara lagi oleh negara padahal diantara kami merupakan warganegara yang ingin juga rasakan pendidikan layak seperti halnya orang lain padaumumnya, yang jelas kami adalah kaum Disabilitas Netra yang oleh Pendiri Panti Orang Belanda dicita-citakan untuk dibina di yayasan ini.
Apakah memang penanganan terhadap "sengketa" dengan kaum cacat menurut tata aturan di negara ini demikian caranya secara hukum dan kemanusiaan. Kami jadi penghuni Wiyataguna bukan gelandangan yang diambil dari jalanan melainkan melalui proses sesuai UU dan Peraturan Pemerintah, bahkan ada yang dijemput dari kampung untuk dibina di WG.
Apakah yang akan kami rasakan hari-hari ke depan seperti yang terjadi penggusuran dan pengusiran di Tamansari, warga Tamansari saja diberikan kerohiman untuk tempat tinggal sementara, sebagian kami ditipu untuk dikembalikan ke orang tua tampa tahu apa yang ditandatangan di surat pernyataan, karena kami tidak boleh didampingi oleh orang sehat mata.
Hari Jumat kemarin, beberapa senior dan penghuni Netra WG sengaja mendatangi 3 Fakultas Hukum, yakni Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Universitas Islam Bandung, dan Universitas Pasundan.
Kami juga akan berupaya mendatangi Universitas Patahyangan dan Universitas Padjadjaran, untuk mendegar bagaimana pendapat para ahli hukum tersebut terhadap masalah kami, dan bagaimana sikap pengabdian kaum intelektual terhadap kasus kemanusiaan ini.
Kami akan bertahan, bila tidak bisa makan kami akan berpuasa baik puasa Daud maupun puasa total. Hanya kepada Allah SWT lah kami berserah dan berlindung, semoga pertolongan dari masyarakat yang tergerak pada masalah kemanusiaan ini hadir membongkar apa sebenarnya dengan hilangnya Panti Netra di Jawa Barat. (Humas/Pena Sukma)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Oknum Perangkat Desa Ditangkap Satreskrim Polres Purworejo

PURWOREJO - wartaexpress.com - Man (35) warga Desa Lubang Sampang yang juga merupakan Perangkat Desa diamankan Satreskrim Polres Purworejo....