BANDUNG - wartaekspres – Terkait permasalahn
yang sedang dialami, penghuni Wiyataguna menyampaikan surat terbuka yang pernyataan; walau kami telah diusir paksa oleh para pegawai
(ASN) Wyata Guna yang tersistematis dan masif, dimana Panti Sosial Bina Netra
yang telah dipaksa pula fungsinya menjadi balai, namun kami terus bertahan
walau terlunta-lunta diabaikan layaknya gelandangan.
Kami penghuni
Wiyataguna berjumlah 30 orang, sekarang posisi terusir dan tak diberi pintu
lagi untuk bernaung dari dinginnya malam dan teriknya siang, karena pintu gerbang
panti ditutup serta dilengkapi oleh aparat seakan kami penjahat yang meresahkan.
Memang sejak panti
dirubah menjadi balai, kami tidak dipelihara lagi oleh negara padahal diantara
kami merupakan warganegara yang ingin juga rasakan pendidikan layak seperti
halnya orang lain padaumumnya, yang jelas kami adalah kaum Disabilitas Netra
yang oleh Pendiri Panti Orang Belanda dicita-citakan untuk dibina di yayasan
ini.
Apakah memang
penanganan terhadap "sengketa" dengan kaum cacat menurut tata aturan
di negara ini demikian caranya secara hukum dan kemanusiaan. Kami jadi penghuni
Wiyataguna bukan gelandangan yang diambil dari jalanan melainkan melalui proses
sesuai UU dan Peraturan Pemerintah, bahkan ada yang dijemput dari kampung untuk
dibina di WG.
Apakah yang akan kami
rasakan hari-hari ke depan seperti yang terjadi penggusuran dan pengusiran di
Tamansari, warga Tamansari saja diberikan kerohiman untuk tempat tinggal
sementara, sebagian kami ditipu untuk dikembalikan ke orang tua tampa tahu apa yang
ditandatangan di surat pernyataan, karena kami tidak boleh didampingi oleh
orang sehat mata.
Hari Jumat kemarin,
beberapa senior dan penghuni Netra WG sengaja mendatangi 3 Fakultas Hukum,
yakni Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Universitas Islam Bandung, dan Universitas
Pasundan.
Kami juga akan
berupaya mendatangi Universitas Patahyangan dan Universitas Padjadjaran, untuk
mendegar bagaimana pendapat para ahli hukum tersebut terhadap masalah kami, dan
bagaimana sikap pengabdian kaum intelektual terhadap kasus kemanusiaan ini.
Kami akan bertahan,
bila tidak bisa makan kami akan berpuasa baik puasa Daud maupun puasa total.
Hanya kepada Allah SWT lah kami berserah dan berlindung, semoga pertolongan
dari masyarakat yang tergerak pada masalah kemanusiaan ini hadir membongkar apa
sebenarnya dengan hilangnya Panti Netra di Jawa Barat. (Humas/Pena Sukma)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar