Sabtu, 18 Januari 2020

Citra Pariwisata Raja Ampat Terancam Bahaya Besar


RAJA AMPAT - wartaekspres - Kerusakan karang yang diakibatkan bom dan tabrakan kapal akhir-akir ini telah membuat masyarakat Raja Ampat resah, hal ini terjadi secara insidentil dan berada pada spot-spot tertentu dalam jangka pendek. Namun ada bahaya yang lebih besar dan meluas yang bersifat jangka panjang yang akan menghancurkan karang dan merusak citra pariwisata Raja Ampat.
“Bahaya besar yang sedang mengancam dan akan terjadi secara luas merusak karang di Raja Ampat namun belum disadari masyarakat, itu adalah pengihajuan karang yang dilakukan oleh lumut hijau atau green algae,“ ujar Yusdi Lamatenggo, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat.
Menurut Yusdi yang juga seorang magister perikan kelautan jebolan IPB Bogor, bahwa lumut di perairan Raja Ampat tumbuh subur sehingga menutup karang, akibatnya karang laut tidak mendapatkan cahaya matahari kemudian rusak dan mati.
Yusdi telah berdiskusi dengan mitra kerja, baik dengan lingkungan hidup, aktivis lingkungan dari LSM international, para pelaku wisata dan akademisi di Raja Ampat dan Papua Barat, untuk meneliti penyebab kenapa lumut hijau tumbuh subur di Raja Ampat, ternyata hasilnya adalah karena kondisi perairan yang subur dengan nitrogen.
“Dari mana datangnya nitrogen yang menyebabkan kondisi perairan kita subur, setelah dilakukan penelitian dengan mengambil sample-sample dari Waigeo hingga Misool, perairan yang subur dengan nitrogen datangnya dari treatmen sanitasi yang buruk yaitu WC dan jamban,” terangnya.
“Aliran Sungai Waisai dan sanitasi buruk dari pasar menuju laut, kampung-kampung menuju laut, home stay-home stay menuju laut menjadi penyebab asupan nutrisi nitrogen yang tinggi,” lanjutnya.
Sanitasi yang buruk dapat dilihat dari pembangunan rumah yang membelakangi laut dengan adanya jamban dan pembuangan sampah, pembuatan WC di darat yang kurang sehat sehingga ketika hujan, semua lintasannya menuju sungai kelaut dan menyuburkan menyuburkan kondisi perairan karena nitrogen yang dialirkan ke laut adalah pupuk yang subur.
“Pupuk nitrogen masuk ke dalam laut kemudian menyuburkan lumut dan bintang laut berduri atau atau Crown of Thorns Starfish (CoTS), berkembang pesat sehingga merusak dan mematikan karang, hal ini terjadi secara alamiah, tidak ada yang tahu, pelan tapi pasti namun terjadi secara meluas dan ini sangat berbahaya dalam jangka panjang,” jelas Yusdi secara ilmiah.
“Lebih luas dari bom dan tabrakan kapal, kalau kerusakan karang oleh kapal terjadi on the spot, bom on the spot, potas on the spot, tapi ini massive dan sangat berbahaya dalam jangka panjang, Jika kita tidak sadar akan sangat berbahaya karena lumut hijau telah berkembang pesat di hampir semua kampung,“ urainya.
Walaupun demikian belumlah ada kata terlambat, untuk itu perlu dibangun kesadaran seluruh masyarakat Raja Ampat untuk membangun sanitasi ramah lingkungan baik sebagai salah satu solusi dimana nitrogen dimanfaatkan untuk pertanian maupun listrik yang dapat disuplai kembali untuk kebutuhan local kampong, home stay dan resort-resort.
Beberapa waktu lalu telah dilakukan gerakan mengambil bintang laut berduri oleh pegiat lingkungan dan pelaku wisata agar tidak merusak karang, namun hal ini tidak mengatasi permasalahan, karena hanya tambal sulam bocor, tidak menyentuh akar permasalahannya.
Untuk itu, Yusdi telah mengajak beberapa pegiat LSM international untuk memulai sebuah gerakan membangun kesadaran masyarakat untuk mengatasi akar masalah penyebab suburnya perairan akibat nitrogen dan diusulkan membangun pilot projek percontohan di setiap kampung dan home stay.
Disinggung tentang kerusakan terumbu karang akibat bom dan tabrakan kapal, Yusdi sangat mengapresiasi kesadaran masyarakat Raja Ampat yang sudah sadar wisata sehingga merespon dengan cepat setiap ancaman tabrakan karang oleh kapal wisata maupun bom.
Yusdi mengaku telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengatasi masalah ini, menurutnya ada beberapa penyebab kenapa kapal menabrak karang dan perlu upaya kerja keras dari semua stake holder pariwisata di Raja Ampat.
Karena ada beberapa kasus kapal yang tidak memiliki ijin namun masuk ke perairan Raja Ampat atas rekomendasi pihak-pihak lain,  yang memiliki hak mengatur pelayaran di luar wewenang pemerintah kabupaten Raja Ampat, sehingga mengatasi masalah tabrakan kapal pada karang sangat kompleks dan perlu kerja keras.
Baik tabrakan kapal, bom, potassium, lumut dan bintang berduri,  kesemuanya berdampak terhadap kerusakan karang dan dapat menurunkan citra pariwisata Raja Ampat, namun yang lebih berbahaya di depan mata tapi tidak kelihatan yaitu lumut hijau yang disuburkan nitrogen.
Nitrogen yang menyuburkan lumut dan bintang laut berduri bekerja secara perlahan namun sangat berbahaya dan mematikan, bak kanker yang bekerja secara perlahan, menjalar serta menyebar secara luas ke seluruh tubuh dan merengut nyawa secara tiba-tiba. (Jo)

1 komentar:

Oknum Perangkat Desa Ditangkap Satreskrim Polres Purworejo

PURWOREJO - wartaexpress.com - Man (35) warga Desa Lubang Sampang yang juga merupakan Perangkat Desa diamankan Satreskrim Polres Purworejo....