Selasa, 12 November 2019

Merebut Persepsi Publik : Esensialisme Politik Sepanjang Masa, Sebuah Pembelajaran Penting Dalam Konteks Pileg 2019


Oleh : M.M. Rudi Ranaq, SH, M.Si
TENGGARONG - wartaekspres - Inti dari pertarungan politik adalah merebut persepsi publik. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara merebut persepsi publik tersebut? Apakah dengan cara yang edukatif atau justru dengan cara manipulatif ? Bagaimana sepak terjang para politisi/caleg dalam merebut persepsi publik, berikut uraian penulis berdasarkan observasi atau pengamatan berdasarkan realitas aktual saat ini.
Merebut Simpati publik dengan cara edukatif versus cara manipulatif dapat kami jelaskan melalui trend-trend berikut ini.
Cara-cara Edukatif
Merebut persepsi publik dengan cara edukatif adalah sebuah metode kampanye atau propaganda melalui cara-cara normatif, yang berpegang teguh pada sendi-sendi instrument yuridis, seperti misalnya mengacu pada Pasal 149-154 UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menegaskan tugas dan fungsi pokok anggota legislatif terbatas pada bidang legislasi, penganggaran dan pengawasan.
Hal mana tupoksi tersebut dilakukan melalui cara turun langsung ke masyarakat untuk menyerap aspirasi/pemikiran mengenai masalah dan kebutuhan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Konsekuensi logis dari metodologi propaganda yang bersendikan pada instrumen yuridis di atas, caleg atau politisi tidak bisa membuat janji-janji manis bak angin sorga yang membuat publik terbuai atau terhipnotis tanpa pemikiran berdasarkan kesadaran. Pola propaganda seperti ini memang mengarah pada konsientisasi atau penyadaran yang membangunkan nalar untuk masuk ke pemikiran logisme.
Cara-cara Manipulatif
Yang kedua adalah pola propaganda manipulatif. Pola propaganda manipulatif adalah metodologi propaganda atau kampanye yang tidak didasarkan pada proses konsientisasi, tetapi langsung masuk ke pemikiran bawah sadar melalui aksi-aksi transaksional yang tidak didasari pada pertimbangan rasionallitas atau pertimbangan akal budi.
Contoh pendekatan propaganda manipulatif ini membuat janji-janji yang menerobos masuk ke ranah eksekutif, yang sebenarnya bukan tugas dan fungsi pokok anggota legislatif, mereka berjanji seperti calon-calon kepala daerah dengan visi misi yang muluk-muluk, menjanjikan air bersih, penciptaan lapangan kerja, keramba ikan, peternakan ayam,  beasiswa, dan lain-lain.
Proses kampanye manipulatif ini juga sering dilakukan melalui cara "kebaikan hati" seperti pengobatan gratis, pembagian sembako, sumbangan kesusahan (sakit dan kematian). Mereka berperan sebagai seorang yang murah hati kepada masyarakat. Dengan kegiatan "murah hati" tersebut tentu diharapkan mendatangkan persepsi positif publik penerima bantuan, bahwa politisi/calon anggota legislatif tersebut adalah seorang pribadi yang murah hati dan penuh perhatian kepada sesama.
Untuk menguji hal tersebut bermuatan politis atau tidak, sesungguhnya gampang, yakni jawaban terhadap pertanyaan apakah ia akan tetap berbuat demikian jika ia bukan seorang caleg? Cara lain yang tidak kalah pentingnya sebagai bagian dari cara yang manipulatif adalah money politics dan penyebaran berita bohong (hoax) yang berisi kampanye hitam untuk men-down grade lawan dan meng-upgrade elektabilitas politisi/calon anggota legislatif.
Saya sepintas mengamati, bahwa proses progaganda yang edukatif dan berisi konsientisasi berdasarkan instrumen yuridis belum terlalu efektif untuk masyarakat Indonesia, terutama pada lingkungan rural community. Padahal kualitas demokratisasi terletak pada propaganda yang edukatif dan konsientisasif.
Trend sosial menunjukkan bahwa rural community, apalagi masyarakat rentan (vulnerable society) sangat rentan ditaklukkan dengan cara kampanye/propaganda manipulatif yang dibungkus dengan proyek murah hati calon anggota legislatif, melalui aksi-aksi money politics yang dibungkus dengan aktivitas dan bantuan sosial berdasarkan kebaikan hati, yang seringkali bersifat sementara (sesaat) sampai pada hari pemilihan, dan setelahnya, good bye sampai jumpa lima tahun berikutnya.
Sebuah Tantangan Untuk Menentukan Pola Propaganda
Di sini terdapat dilema sekaligus tantangan untuk para caleg/politisi, apakah tetap mengedepankan  cara-cara manipulatif yang beresiko mengorbankan kualitas pemilihan/demokrasi  atau memegang teguh prinsip edukatif yang tidak popular di tengah masyarakat akar rumput sebagai komunitas terbesar pemilih Indoensia?
Atau pertanyaan sederhananya, adalah apakah yang terpenting adalah kesuksesan merebut persepsi publik tanpa atau tidak peduli cara tersebut melecehkan sendi-sendi demokrasi yang mengesampingkan kualitas demokrasi dan atau bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku, atau sebaliknya?
Memang, konsekuensi logis secara finansial, cara-cara manipulatif cenderung efektif, walaupun membutuhkan biaya politik yang jauh lebih besar dan rentan berisi politik uang, ketimbang cara -cara edukatif dan konsientisasif, yang belum populer dan tidak terlalu disukai masyarakat akar rumput, yang karenanya berisiko tidak dilirik masyarakat. Inilah dilema yang dihadapi dunia pemilihan umum calon anggota legislatif kita saat ini, edukatif dan konsientisasif atau manipulatif? Sebuah pilihan yang yang tidak mudah dan ngeri-ngeri sedap.
Sebuah Kemestian
Merebut persepsi publik memang merupakan problematika politis yang senantiasa aktual sepanjang masa, karena di dalam berisikan sejuta kepentingan. Pertanyaan sekarang, apakah kepentingan tersebut betul-betul dimuarakan kepada kepentingan politik yang mendewasakan dan memerdekakan serta memajukan kepentingan umum, bangsa dan negara, atau kepentingan-kepentingan politik yang bersifat sesaat untuk kepentingan pengendalian kekuasaan yang berorientasi pada ruang yang bersifat sektarian?
Idealnya, ending dari proses demokratisasi pemilihan calon anggota legislatif adalah lahirnya wakil-wakil rakyat yang mempunyai kemampuan memadai dan dapat dipercayai oleh masyarakat karena memiliki integritas kepribadian dan kompetensi/skill yang mumpuni, sehingga diharapkan mereka yang terpilih dapat berperan secara maksimal dalam menjalankan tugas dan fungsi pokoknya secara efektif dan efisien, yang dalam masa kampanye dilahirkan melalui proses propaganda yang edukatif dan konsientisasif, yang jauh dari aroma hoax, black campaign yang berisi trik-trik yang manipulatif dan penuh dengan pembohongan dan pembodohan. (Penulis adalah Advokat & Pemerhati Dialektika Politik Praktis, Warga Kampung Benung, Kutai Barat, Kaltim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Oknum Perangkat Desa Ditangkap Satreskrim Polres Purworejo

PURWOREJO - wartaexpress.com - Man (35) warga Desa Lubang Sampang yang juga merupakan Perangkat Desa diamankan Satreskrim Polres Purworejo....