TENGGARONG - wartaekspres - Pada abad ke empat,
hanya Kutai Martapura yang bisa disebut sebagai sebuah negara di seantero
Nusantara. Hal ini dilandaskan kepada pengertian negara saat itu. Suatu
pemerintahan bisa disebut negara atau kerajaan jika memiliki pemimpin,
perangkat pemerintahan (seperti menteri atau kabinet), dan sistem pemerintahan
(undang-undang atau peraturan). Meskipun banyak komunitas penduduk di Nusantara
yang sezaman dengan Mulawarman, mereka tidak bisa disebut sebagai negara atau
kerajaan. Mereka lebih tepat disebut sebagai komunitas suku, bukan kerajaan, sedangkan
pemimpinnya disebut kepala suku, bukan raja.
Sistem pemerintahan
di Kutai Martapura disebut dipelajari dari pedagang dan Brahmana India Selatan.
Yang sempat menjadi perdebatan, mengapa kerajaan tertua Nusantara justru berdiri
di pedalaman Sungai Mahakam, alih-alih di pesisir?
Menurut arkeolog Dwi
Cahyono, faktor pertama adalah jarak Kalimantan ke selatan India lebih dekat
dibanding pulau lain. Penyebaran kerajaan bercorak Hindu-Buddha waktu itu
memang sangat jelas di Asia Tenggara. Sebelum Kutai Martapura, telah berdiri
Kerajaan Campa di wilayah Vietnam.
Pedagang India yang
rajin memburu emas dan gaharu adalah faktor kedua. Emas dan gaharu sukar
ditemukan di tepi laut. Tidak heran bila Muara Kaman yang berdiri 120 kilometer
dari muara Sungai Mahakam akhirnya ditemukan.
Interaksi Muara Kaman
dengan pedagang dari selatan India (sebagian besar dari ras Tamil) juga membawa
kemajuan. Bukan hanya transfer sistem pemerintahan dan agama, demikian pula
teknologi di Muara Kaman. Penguasaan teknologi memungkinkan Mulawarman,
sebagaimana tertulis dalam prasasti Yupa, mampu menaklukkan para kepala suku di
sekitar wilayah kekuasaannya.
Mengenal Technologi Negara Kerajaan Pertama Indonesia
Teknologi di Muara
Kaman terlihat dari alat transportasi. Sebelum kontak dengan pedagang India,
penduduk lokal hanya membuat rakit dari batang kayu yang diikat. Selanjutnya,
berkembang menjadi sampan tipe Perahu Lesung. Kemampuan membangun perahu papan
berukuran sedang hingga besar dikuasai kemudian.
Dari penggalian
arkeologi di situs Muara Kaman, ditemukan manik-manik yang dibuat dari batu
lokal. Ini menandakan bahwa masyarakat Kutai Martapura telah menggunakan
perkakas logam untuk menggali, termasuk menggunakan logam sebagai persenjataan.
Negara yang dipimpin
Mulawarman juga dikenal makmur. Pertanda yang paling nampak adalah kemewahan
sesembahan dalam upacara sebagaimana terukir dalam prasasti Yupa. Mulawarman
menyedekahkan emas yang amat banyaknya, tanah yang luas, biji wijen, hingga
lembu. Dari seluruh persembahan itu, hanya sapi yang disebut jumlahnya, yaitu
20 ribu ekor. Para ahli belum sepakat mengenai jumlah ini, benar-benar 20 ribu
ekor atau hanya dilebih-lebihkan. Namun, yang pasti, sapi ini memang banyak
jumlahnya. (Rilis/Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar