GARUT - wartaekspres - Rasa cemas menghantui
keluarga tim medis di Puskesmas Cisurupan, Kabupaten Garut. Pasalnya hingga
kini mereka masih menunggu hasil swab test keluar agar bisa hidup tenang.
Pasca ditetapkannya satu kasus konfirmasi positif Covid-19 di Puskesmas
Cisurupan, seluruh tenaga medis merasa takut, tak terkecuali keluarga mereka di
rumah.
Tatang S (45) saudara dari salah seorang tenaga medis di Puskesmas
Cisurupan, mengaku kecewa dengan langkah Pemkab Garut, khususnya Tim Gugus Tugas
Penanganan Covid-19. Dia menilai gerak tim gugus tugas lamban dalam melakukan
langkah.
"Setelah adanya kasus positif, kami berharap segera dilakukan rapid test.
Tapi nyatanya rapid test sendiri molor. Tapi sekarang memang sudah keluar dan
hasilnya saudara saya negatif," ujar Tatang.
Tatang pun berharap, agar hasil swab test terhadap saudaranya itu cepat
keluar agar keluarga di rumah bisa hidup tenang. Pasalnya, saudaranya yang
menjadi tim medis itu sudah banyak berinteraksi dengan keluarga di rumah.
“Saya mau bertanya itu hasil swab test memang lama ya,? berapa lama sampai
hasilnya keluar?” kata Tatang saat dihubungi Minggu malam (3/5/2020).
Tatang juga mengeluh, karena selama ini belum ada pihak berwenang dari tim
gugus yang memberikan imbauan atau arahan kepada keluarganya di rumah. Harus
seperti apa langkah yang dilakukan keluarga ketika menjalani isolasi mandiri
seperti sekarang.
“Tidak ada himbauan harus seperti apa kepada keluarga kami di rumah, kami
bingung. Bahkan di rumah juga pintu pagar itu dikunci gembok, mau ke luar masuk
itu dikasih tahu pakai WA,” katanya.
Kemudian yang paling penting, Tatang meminta kepada Pemerintah Kabupaten
Garut agar ada semacam trauma healing, untuk memulihkan psikologis mereka yang
selama ini merasa tertekan.
“Kami butuh konsultasi kepada psikiater, karena yang paling utama bencana
mental ini yang kami rasakan ketika tertimpa masalah seperti ini,” kata Tatang.
Selain itu Tatang ingin memberi masukan kepada Pemkab Garut, agar ke depan
lebih waspada lagi dalam menangani warga yang ditetapkan status ODP. Dia
berharap ketika ada warga yang sudah ditetapkan ODP, lebih baik diisolasi di
satu tempat, jangan dibiarkan berinteraksi dengan keluarganya di rumah.
Kejadian yang menimpa saudaranya ini menjadi pelajaran. Sebab yang
merasakan tertekan bukan hanya orang yang berstatus ODP, tapi juga pihak
keluarga di rumah. Maka dari itu, dia berharap ada tempat isolasi khusus bagi
masyarakat yang sudah ditetapkan ODP atauapun PDP. (Koes)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar