Selasa, 23 April 2019

Nelayan Pantai Mekar Muara Gembong Keluhkan Pencemaran Kepada AMPHIBI


BEKASI – wartaekspres.com - Adanya keluhan dan pengaduan masyarakat nelayan Pantai Mekar Muara Gembong, Kabupaten Bekasi kepada AMPHIBI tentang dugaan pencemaran, menjadi tantangan baru terhadap Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan Hidup & B3 Indonesia (AMPHIBI).
Setelah mendapat laporan dari masyarakat dan tokoh nelayan Pantai Mekar terkait beberapa permasalahan lingkungan,  Tim Investigasi AMPHIBI yang dipimpin langsung Ketua Umum, Agus Salim Tanjung, So.si melakukan kunjungan ke Desa Muara Jaya, Pantai Mekar Muara Gembong, Kab. Bekasi, Senin (22/4/2019).
Dalam kunjungannya, Ketua Umum AMPHIBI yang didampingi Koordinator Investigasi Gregorius Boris dan Jhon Ambon, disambut tokoh masyarakat setempat Amen dan para nelayan.
Kecamatan Muara Gembong terdapat enam desa, yakni Desa Pantai Bahagia, Pantai Mekar, Pantai Bakti, Pantai Harapan Jaya,  Pantai Sederhana dan Desa Jaya Sakti.
Seluruh masyarakat setempat mengeluhkan tentang pencemaran air yang diduga bersumber dari Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL).
Sesampai di lokasi dimana masyarakat dan nelayan telah berkumpul, Tim Investigasi AMPHIBI mengadakan rapat dan tanya jawab dengan masyarakat, nelayan Desa Pantai Mekar.
Di lokasi penimbangan hasil tangkapan ikan para nelayan, Ketua Umum AMPHIBI, Agus Salim Tanjung memperkenalkan diri beserta tim.
Dalam tanya jawab tersebut, berbagai keluhan dilontarkan nelayan dan tokoh masyarakat kepada Tim Investigasi AMPHIBI.
Taryono, salah satu nelayan menyampaikan, bahwa pencemaran dari Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) benar-benar telah merugikan masyarakat.
"Kami sebagai nelayan meminta kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi dan pusat, agar pembuangan limbah industri ke Kali CBL tidak lagi terjadi. Penghasilan kami yang tadinya bisa mendapat 200 ribu sampai 300 ribu per hari, kini hanya bisa mendapat 20 sampai 50 ribu per hari. Kadang kami seharian melaut sering tidak mendapat uang sama sekali," ujar Taryono mengeluh.
Sementara tokoh setempat, Sayian (97) menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah yang tidak mengawasi perusahaan/industri dalam pengelolaan air limbahnya.
"Dulu nelayan di desa ini masih bisa mendapatkan ikan kakap merah tanpa harus jauh-jauh melaut. Tapi, sekarang ini ikan cere saja sudah tidak ada lagi," terang Sayian, kakek pejuang 45 yang sempat melontarkan kata-kata Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sementara Ketua Umum AMPHIBI, Agus Salim Tanjung, So,si dalam pertemuan tersebut menyampaikan, bahwa permasalahan lingkungan hidup adalah tanggung jawab kita semua.
“Kalau memang benar-benar ingin ada suatu perubahan di Kecamatan Muara Gembong ini, harus benar-benar bisa bekerjasama dalam pengawasan dan aksi nyata. Kalau kita kompak dan satu komando, permasalahan lingkungan di desa ini akan segera terselesaikan tanpa harus saling menyalahkan," ungkap Agus Salim.
Disamping itu, Agus Ssalim juga mengajak masyarakat mulai peduli terhadap lingkungan dan membentuk Kampung Peduli Pencemaran Lingkungan (KPPL) di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.
Selanjutnya masyarakat dan para nelayan sepakat akan membentuk dan menyusun kepengurusan KPPL AMPHIBI dan langsung mengibarkan bendera AMPHIBI dan YASOS BKS di lokasi tersebut. (awan.pers/red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Oknum Perangkat Desa Ditangkap Satreskrim Polres Purworejo

PURWOREJO - wartaexpress.com - Man (35) warga Desa Lubang Sampang yang juga merupakan Perangkat Desa diamankan Satreskrim Polres Purworejo....