![]() |
| Andri Perkasa Kantaprawira |
BANDUNG - wartaekspres - Ketua Gerakan
Pilihan Sunda, Andri Perkasa Kantaprawira, organisasi politik yang diredeklarasi
27 Desember 2017 lalu, dimana pada tahun 1955 pernah menjadi salah satu dari
100 peserta Pemilu paling demokratis menyatakan, bahwa banyak stakeholder Jawa
Barat sejak awal menolak mega proyek strategis nasional.
Hal ini karena
Menteri BUMN saat itu Rini Soemarno, saat sosialisasi formalitas tidak bisa
menjelaskan apa untungnya proyek ini bagi ekonomi, sosial, dan budaya apalagi
lingkungan hidup di Tatar Sunda, kecuali sebagai akal-akalan untuk meningkatkan
nilai ekonomi berdirinya Kota Kota super modern terutama di Jawa Barat Tengah
dari mulai Halim Sunda Kelapa, Bekasi (Meikarta) Karawang, KBB (Walini), Kabupaten Bandung
(Tegal Luar-Podomoro), bahkan disinyalir akan tembus terus ke Majalengka yang
mempunyai Bandara Internasional Kertajati dan Subang yang memiliki Pelabuhan
Internasional Patimban.
“Kami lebih setuju
dengan sikap kebijakan Menteri Perhubungan saat itu M. Jonan untuk kepentingan
strategis transfortasi modern, baik untuk logistik ataupun penumpang dibangun
saja penuntasan Double Track Rel Kereta Api Jakarta-Bandung yang biayanya hanya
Rp. 2 triliun dan assetnya milik BUMN PT KAI, serta jelas bisa juga untuk
kepentingan logistik ekonomi dan tidak merusak ekosistem lingkungan Tatar Sunda,
karena studi kelayakannya sudah teruji sejak zaman Kolonial Belanda,” ujar
Andri.
Andri juga menyatakan,
bahwa merujuk obrolan dengan ekonom senior Urang Pakuan Bogor Dr. Rizal Ramli
yang mantan Menko Maritim menyatakan, bahwa Turnkey Project KCIC kemahalan,
merujuk dari projects yang terjadi di Malaysia yang dihentikan pemenang Pemilu
PM Mahathir Muhammad.
“Harusnya harganya direorganisasi
sampai bisa 25 persen, dipotong dari nilai sekarang, harga yang lebih tinggi
dengan dukungan pengadaan lahan yang lebih murah ini disinyalir mengandung
rente ekonomi,” urai Andri.
Meledaknya Pipa
Pertamina di wilayah di Cimahi diduga akibat ketidak profesionalan tenaga kerja
asing Turnkey Project bernama Li Xuanfeng yang tewas terbakar, karena salah
dalam pekerjaan pengeboran. Hal itu, menunjukkan bahwa pekerja asing tidak
mengetahui peta lapangan geodesi dan geologi wilayah yang dibangun.
“Maka kami juga
meragukan seluruh struktur pembangunan ini sesuai konstruksi proyek modern,
kalau hal kecil saja bisa terjadi kelalaian, apalagi di Jawa Barat yang dilalui
proyek KCIC terkenal banyak area patahan geologi purbanya,” lanjutnya.
Dikatakan, Andri,
bahwa kami menuntut agar Proyek ini ditinjau ulang dan manajemen melakukan
penjelasan publik kepada stakeholder Tatar Sunda, disertai kalangan pakar
berintegritas dari berbagai universitas ternama di Jawa Barat.
Kearifan lokal dari leluhur
melalui lagu Kaulinan Budak Oray Orayan
sudah mengingatkan, bahwa Proyek KCIC ini bakal merusak lingkungan sosial
budaya masyarakat Sunda, makanya incu putu Siliwangi harus mencegahnya untuk
tidak terbangun.
“Bersyukur di tengah
seolah-olah akan ada pembangunan yang bisa dipercepat walaupun kita ragu keuangannya
mendukung, mengingat pertumbuhan ekonomi RRC sedang melambat dan banyak Turnkey
Project di berbagai belahan dunia bermasalah, rakyat Jawa Barat diingatkan
dengan kode alam ini,” tutup Andri. (Kana
Pena Sukma)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar