Selasa, 19 November 2019

Irjen Pol (Purn) Dr. H. Anton Charliyan, Ziarah dan Telusuri Sejarah Rakean Sancang, Penyebar Agama Islam Pertama Di Indonesia


GARUT - wartaekspres - Pada hari Rabu (20/2019) bertepatan dengan 1 Maulud 1441 H, mantan Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol (Purn) Dr. H. Anton Charliyan, MPKN yang selama ini dikenal peduli terhadap seni budaya dan sejarah, terutama sejarah Islam di Indonesia, dengan penuh semangat bersama komunitas Gagak Lumejang pimpinan Ustadz Wahyu Yunus dan Kepala Desa Sukanagara Aang Kunaefi, melaksanakan kegiatan ziarah sambil menelusuri sejarah Rakean Sancang di makam keramat Gunung Nagara di Desa Sukanagara, Kec. Cisompet, Kab. Garut.
“Ziarah sudah menjadi rutinitas yang dilakukan oleh Gagak Lumejang. Dalam melestarikan tradisi ziarah, organisasi ini berkeliling ke sejumlah makam keramat yang ada di Kabupaten Garut. Kali ini, Gagak Lumejang mendampingi Bapak Irjen. Pol. (Purn.) Anton Charliyan, MPKN melakukan ziarah menuju makam keramat Gunung Nagara di Desa Sukanagara, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Anton Charliyan yang telah peduli terhadap sejarah Islam yang berkembang di Kab. Garut,” ungkap Ustadz Wahyu Yunus, Ketua DPP Gagak Lumejang.
Kepala Desa Sukanagara Aang Kunaefi juga berterima kasih kepada Anton Charliyan yang bersusah payah menelusuri situs sejarah Islam yang berada di desa yang dipimpinnya, dimana lokasinya cukup jauh di Gunung Nagara. ”Semoga kunjungan Pak Anton Charliyan membawa berkah bagi kami Desa Sukanagara, setidaknya dapat menyampaikan aspirasi kepada pemerintah untuk membuka akses jalan ke Komplek Makam Keramat Gunung Nagara, yang masih terisolir,” ujarnya.
Sementara itu, Anton Charliyan mengungkapkan tujuan dari kegiatan berziarah sambil menelusuri sejarah perkembangan Islam “Rakean Sancang” di Kab. Garut menarik perhatian dirinya, “Karena ternyata Rakean Sancang ini merupakan penyebar agama Islam pertama di Indonesia pada tahun 640 Masehi,” ujarnya.
Jika melihat “titimangsa” penanggalan, menurut Abah Anton panggilan akrab Anton Charliyan, bahwa diperkirakan makam tersebut merupakan pemakaman para raja dan para pejabat pengelola negara. Bila dilihat dari karakter makam termasuk pemakaman Muslim. Hal tersebut bisa dilihat dari huruf Arab yang ditulisnya masih terpisah pisah, ditemukan tulisan Lailaha Ilallah, bismillah, angka-angka  tahun antara lain 119 H, 12 H, 1119. 111. 1111 dan lain lain.
“Nah, dari angka tahun tersebut, kemungkinan makam para syuhada di Gunung Nagara di Desa Sukanagara, Kec. Cisompet ini jika merujuk ke angka 12 H sudah ada sejak sekitar tahun 622 M. Kemudian jika merujuk ke 111 H sekitar 721 M. Artinya Islam masuk ke Nusantara melalui Garut jauh lebih tua dari catatan sejarah yang selama ini sering diajarkan di bangku sekolah yaitu sekitar abad 14-15 M,“ jelasnya.
Bahkan menurut cerita rakyat di pemakaman tersebut, disemayamkan petilasan Rakeyan Kean Sancang dikenal juga sebagai Jalu putra Raja Tarumanagara VIII Kertawarman yang lahir sekitar tahun  591 M, dari putri Setyawati alias Nyi Arum Honje atau Wang Amet Samidha dari Hutan Sancang Tepu 6 Sungai Cikaengan Garut (bukan Pangeran Kean Santang putra Prabu Jayadewata Sribaduga Maharaja di tahun 1486 M).
Bila dilihat dari tahun kelahiran memang sezaman dengan zaman Rosulullah SAW dan para sahabat (Baginda Rasulullah lahir 571 M). Adapun tahun Hijriah dimulai tahun 610 M. Di makam tersebut ada tertulis 12 H= 622 M.
Konon kabarnya, pada usia 45 hingga 50 tahun sekitar tahun 640-646 M, Rakean Sancang pergi ke Mekah untuk ibadah haji, dan berguru kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Bahkan berdasarkan catatan ulama Mesir, Syaidina Ali bin Abithalib ra pada saat meng-islam-kan Cyprus Tripoli dan Afrika Utara dibantu oleh tokoh asal Timur jauh (Javadwipa).
Lebih diperjelas lagi dari Naskah Wangsakerta, bahwa yang ikut membantu dalam penaklukan di Afrika adalah putra Raja Taumanagara VIII, siapa lagi putra Tarumanagara yang ke Mekah di zaman itu selain Rakean Sancang yang ternyata selama di Tanah Arab selain naik haji dan memperdalam agama, beliau juga ikut membantu penaklukan-penaklukan dalam rangka syiar Islam di masa Sayidina Ali.
Setibanya dari tanah suci, Sancang awalnya mendirikan padepokan sehingga dinamakanlah daerah tersebt sebagai Kampung Depok yang kemudian akhirnya mendirikan Keadatuan Suramandiri sebagai wilayah yang mandiri atau negara kecil.
Ketika Sayidina Ali mendapat musibah di bavok di Mesjid Kafash, beliau berangkat ke Mekah lagi, tapi hal tersebut dijadikan kesempatan oleh Tarumanagara, Padepokan Suramandiri diserang Naga Jayawarman, sehingga Gunung Nagara hancur dan ribuan syuhada gugur di sana. Karena itu, di pemakaman tersebut  disemayamkan Eyang Ruhi Kudratullah, Prabu Kian Santang, Ratu Gandawati (istri Kian Santang), Syeh Abdul Jabar, Eyang Sembah Ibrahim, Eyang Raksabumi dan lainnya.
“Itulah sekilas riwayat tentang Rakean Sancang dan Gunung Nagara yang ternyata merupakan tokoh penyebar Agama Islam pertama di Nusantara se jaman dengan Kekhalifahan Sayidina Ali Ra, lahir 15 Sept 601 M-wafat  29 Jan 661, masa kekhalifahan 632-661 M.  Namun semua ini tentu saja perlu kajian dan penelitian lebih lanjut dan seksama melalui seminar-seminar ilmiah di kampus-kampus,” jelas jenderal polisi yang sering blusukan ke pesantren menemui para kyai dan santri-santri. (Pena Sukma)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Oknum Perangkat Desa Ditangkap Satreskrim Polres Purworejo

PURWOREJO - wartaexpress.com - Man (35) warga Desa Lubang Sampang yang juga merupakan Perangkat Desa diamankan Satreskrim Polres Purworejo....