SAMBAS - wartaekspres - Usai melakukan
penyerahan bantuan beras ke Kecamatan Semparuk, Bupati dan Wakil Bupati Sambas
bersama Kapolres Sambas, Dandim 1208/Sambas, Ketua Pengadilan Agama, Gugus
Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kab. Sambas dan OPD terkait memantau 2 lokasi,
yaitu Pelabuhan Sintete Kecamatan Semparuk dan perbatasan Sambas-Singkawang di
Kecamatan Selakau, Kamis 2 April 2020.
Pemantauan ini terkait upaya Pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran
Covid-19 ke wilayah Kabupaten Sambas. Dalam pemantauan di Pelabuhan Sintete,
Pemkab Sambas ingin memastikan bahwa perlintasan di pelabuhan berjalan lancar,
aman dan tidak ada orang yang ternotifikasi.
Bupati Sambas menuturkan, bahwa berdasarkan data-data yang diperoleh dari
hasil koordinasi dengan Kepala Syahbandar Sintete menunjukkan, bahwa pihak
Syahbandar Sintete bekerja serius dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19.
Kapal yang masuk sebelumnya menginformasikan terlebih dahulu bahwa mereka
akan bersandar. Kemudian petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) serta
Dinas Kesehatan masuk ke dalam kapal. Semua prosedur berjalan baik serta tidak
ada hal-hal yang mengkhawatirkan. Jadi tidak ada yang ternotifikasi ataupun
status ODP.
“Untuk ini saya ucapkan terima kasih kepada jajaran Syahbandar Sintete, petugas
kesehatan Dinkes serta Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang ada di Pelabuhan
Sintete, karena telah bekerja dengan baik. Semoga semua petugas semoga
baik-baik saja dan sehat wal afiat," harap Bupati.
Usai memantau Sintete, Bupati dan Wakil Bupati Sambas beserta rombongan Forkopimda
melanjutkan memonitor perbatasan Sambas-Singkawang di Kecamatan Selakau.
Di perbatasan Selakau Bupati memantau arus masuk-keluar dari dan ke arah
Sambas. Di Selakau ini Bupati melihat rencana lokasi tempat yang nantinya akan
jadikan Posko Pemantauan arus keluar-masuk pengendara baik menuju Sambas maupun
sebaliknya.
Di sela-sela pemantauan Bupati mengungkapkan, bahwa memang untuk penutupan
wilayah atau perbatasan daerah perlu pertimbangan yang matang. "Banyak hal
yang perlu dipertimbangkan untuk menutup wilayah atau perbatasan kita
(lockdown). Pangan menjadi salah satu persoalan utama. Kalau ketahanan pangan
kita siap untuk 3-4 bulan ke depan, maka hal itu bisa dipertimbangkan. Tapi ini
bukan hal mudah," papar Bupati Sambas.
Diungkapkan Bupati, bahwa yang terpenting saat ini adalah mengoptimalkan energi
kita untuk menjaga pintu-pintu masuk ke wilayah Kabupaten Sambas dengan
melakukan pemantauan kesehatan secara ketat kepada para pelintas yang masuk.
Disamping itu, tambahnya, konsentrasi tetap mengikuti arahan Pemerintah
Pusat dimana Presiden RI telah meminta untuk semakin menggalakkan Physical
Distancing (jaga jarak fisik).
"Untuk hal ini kita terus lakukan edukasi ke masyarakat dan
mudah-mudahan masyarakat semakin cerdas dalam menyikapi kondisi yang ada di
sekitar. Dalam hal ini kami Pemerintah Kabupaten Sambas, Bupati dan Wakil
Bupati Sambas mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang
mengikuti anjuran Pemerintah, terima kasih pula kepada jajaran TNI/Polri yang
sangat konsen dalam soal ini terutama menjaga jangan sampai adanya penumpukkan
atau kerumunan massa. Ini sangat kita apresiasi," puji Bupati.
Selain pantauan tersebut, Bupati Sambas menyampaikan informasi penting,
bahwa terkait keputusan BNPP sebelumnya yang menutup gerbang perbatasan antar
negara Aruk-Biawak di PLBN Aruk, terkecuali perbatasan Entikong dan Badau, maka
atas komunikasi terbaru Bapak Konsulat Jenderal Kuching-RI dengan pihak
Malaysia diinformasikan bahwa PLBN Aruk sudah dibuka kembali.
"Jadi kepada saudara-saudara kita yang ada di Malaysia Timur (Sarawak,
Kuching, Miri dan sebagainya) untuk pulang lewat Aruk. Di PLBN, petugas-petugas
kesehatan, tenaga medis dan paramedis kita, Gugus Tugas Covid-19 bersama
TNI/Polri sudah siap di sana untuk menolong membantu memudahkan kita semua,"
imbuh Bupati. (Rls/danil)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar