Wabup Orideko Burdam menyerahkan bantuan alat tangkap nelayan kepada 8 nelayan di Salawati Utara
RAJA AMPAT -
wartaexpress.com -
“Bagaimana torang pu usaha mau maju, adat tekan torang sampe, sebentar bapa
mantu pesan, sebentar om dan ipar pesan, semua barang pake adat, akhirnya kios
bangkrut,” kata Wakil Bupati Raja Ampat, Orideko Iriano Burdam, di Pulau Jefman,
Sabtu (20/11/2021.
Membuka pelatihan alat
tangkap ramah lingkungan di Distrik Salawati Utara yang dilaksanakan di Pulau
Jefman, Sabtu, 20 November 2021, Wakil Bupati Raja Ampat. Orideko Iriano Burdam,
S.IP, MM, M.Ec.Dev, menekankan pentingnya peran alat tangkap ramah lingkungan
untuk menjaga kelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan, namun tak kalah
penting juga adalah bisnis untuk memasarkan hasil tangkapan maupun pertanian.
Orideko menekan
pentingnya bisnis karena tempat berlangsungnya kegiatan merupakan gedung tempat
pelelangan ikan (TPI) Jefman, yang telah dibangun sejak setahun lalu namun
hingga kini tidak berfungsi, oleh karena itu, dia berharap tahun 2022, TPI
Jefman sudah berfungsi agar dapat menumbuhkan bisnis nelayan dan meningkatkan
pendapatan masyarkat di Salawati Utara.
Apalagi mengingat Pulau
Jefman pernah menjadi urat nadi perekonomian di Salawati Utara, dimana dahulu
kala merupakan Bandara Sorong dan Raja Ampat, perekonomian di Jefman sangat
baik, apalagi ada hasil alam seperti buah Sukun dan Ikan Samandar yang
terkenal, namun sekarang sudah tidak ada bandara sehingga perekonomian Jefman
lumpuh, dan harus dibangkitkan kembali dengan mengandalkan potensi sumber daya
alam yang ada.
Orideko Burdam yang
merupakan Magister Ekonomi Pembangunan dari UGM Yogyakarta ini, mengajak 8
kelompok nelayan yang mengikuti pelatihan agar memulai bisnis untuk
menghidupkan perekonomian di Pulau Jefman dan Salawati Utara, melaui Koperasi,
TPI dan BUMDes.
Diingatkan, agar usaha nelayan dapat berkembang, masyarakat harus mampu memisahkan antara Bisnis dan Adat, jangan kaitkan adat dengan bisnis. Orideko kemudian mencontohkan keluhan salah satu pengusaha lokal di salah satu kampung yang telah dibekali kios, namun akhirnya bangkrut karena adat.
“Bagaimana torang pu
usaha mau maju, adat tekan torang sampe, sebentar bapa mantu pesan, sebentar om
dan ipar pesan, semua barang pake adat, akhirnya kios bangkrut, belum lagi
pergi mancing untuk jual, baru dapat ikan 3 tali tapi karena om (paman) pesan
akhirnya diberikan, dikuatirkan kalau tidak kasi om, jangan sampai ada apa-apa
(kualat), akhirnya merugi lagi,” ujarnya.
Orideko pernah bertemu
salah satu pengusaha Papua di salah satu kabupaten di Sorong Raya yang
mempunyai usaha toko yang maju, kemudian dia bertanya, rahasia suksesnya apa
hingga bisa miliki toko besar. Dijawab oleh sang pengusaha, bahwa supaya usaha
maju, kita harus mampu menyangkal adat.
Untuk merangsang jiwa
usaha masyarakat, Orideko Burdam pernah mengajak seorang pendamping untuk
membuka usaha kios di salah satu kampung di Raja Ampat, guna memberikan contoh
dan merangsang penduduk setempat untuk berusaha, kios yang dikelola maju, namun
kemudian diserahkan ke pengusaha lokal, kios tersebut kemudian bangkrut karena
usaha bisnis dan adat dicampuradukkan.
Wakil Bupati Raja Ampat asal kampung Meosbekwan, Kepulauan Ayau ini, sangat prihatin dengan kondisi ekonomi di kampung-kampung, walaupun kampung kaya sumber daya alam namun belum dikelola secara baik, sehingga belum memberikan dampak terhadap perekonomian kampung, diharapkan tahun 2022, setiap kampung sudah ada BUMDes dan pendamping untuk hidupkan ekonomi kampung. (Jos)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar