
Bupati AFU sambut GM PLN Papua dan Papua Barat, Abdul Farid di Jetty AFU Resort Waisai
RAJA AMPAT - wartaexpress.com - “Kutik di dinding,
menyala di loteng“ merupakan ungkapan kegembiraan masyarakat Raja Ampat yang
berada di pulau-pulau karena telah mendapatkan layanan listrik permanen dari
PLN sebagai bagian dari misi Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, SE, “Raja
Ampat Terang“.
Hingga ulang tahun ke-12,
09 Mei 2015, nama Raja Ampat telah tersohor ke seluruh dunia, namun kabupaten
ini masih dilanda gelap gulita. Sebelum Raja Ampat dimekarkan tahun 2003, Cuma Kampung
Saonek saja yang telah dilayani PLN, walau hanya untuk penerangan malam hari
selama 12 jam dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi.
Ibukota Raja Ampat,
Waisai, sebelum dimekarkan tahun 2003, penduduknya hanya kurang lebih 10 KK,
namun sudah dilayani listrik seperti halnya Saonek. Ketersediaan listrik di
Waisai kemudian diganti dengan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD)
menggunakan APBD mencapai Rp. 70 miliar setiap tahun.
Pelayan PLTD hanya
ada di Ibukota Waisai, namun pelayanannya terseok-seok bak pasang surut air di
laut, ada air pasang naik, pasang naik besar, sebaliknya ada air surut bahkan
air surut panjang (meti kering), demikian juga lampu di Waisai, kadang menyala,
namun lebih banyak padam, tergantung BBM dan prasarana tiang listrik yang
menggunakan kayu besi, tetapi juga tergantung situasi politik.
Tak heran, Kabupaten
Raja Ampat sebelum tahun 2016, terkenal dengan julukan Negeri Seribu Lilin, ada
juga yang menyebutnya Negeri Seribu Genset. Lampu kadang tidak menyala hingga
berminggu-minggu lamanya, belum lagi pemadaman bergilir dan kerusakan alat yang
menyebabkan lampu mati menyala secara tiba-tiba menyebabkan kerusakan alat
elektronik rumah tangga.
Peradaban masyarakat
Raja Ampat terkait penerangan lampu terbilang cukup menyedihkan, hidup mengandalkan
lampu pelita di malam hari, kemudian berkembang menggunakan petromax (lampu gas)
dan genset, itu pun terbatas pada mereka yang mampu membeli dari hasil melaut,
atau mendapat hadiah dari keluarga dan kerabat yang sudah mapan di kota.
Sebagai putra Raja
Ampat asal Waigama dan garis keturunan mama dari Kampung Kabare, Abdul Faris
Umlati, SE, sangat paham akan kondisi masyarakat Raja Ampat di kampung-kampung
yang masih berada dalam kegelapan, jauh dari pelayanan listrik. Kondisi ini
memacunnya untuk berbuat sesuatu kepada sanak keluarganya di kampung-kampung.
Sejak terpilih pada
Pilkada 9 Desember 2015, dan dilantik sebagai Bupati Raja Ampat, 16 Pebruari
2016, Bupati Abdul Faris Umlati, SE (AFU),
akhirnya dapat mewujudkan impiannya untuk menyediakan listrik dan
penerangan lampu kepada masyarakat di pulau-pulau, melalui misi “Raja Ampat
Terang“.
Setelah dilantik, AFU
langsung tancap gas, kerjasama dengan PLN, tak tanggung-tanggung dia meneken
perjanjian kerjasama (MoU) dengan PLN untuk menyediakan tenaga listrik di 117
kampung di seluruh Raja Ampat. PLTD sebagai asset daerah tak dijualnya,
dikerjasamakan untuk dikelola PLN.
Di penghujung masa kepemimpinannya pada periode pertama 2016-2021, sudah 54 kampung di Raja Ampat memperoleh penerangan lampu permanen, masyarakat tak lagi menggunakan pelita dan lampu gas, hanya pada kondisi tertentu seperti mencari ikan pada malam hari “balobe malam”, ataupun pada tempat tertentu di kampung yang belum dilakukan instalasi.
Merasakan kegembiraan
telah dialiri listrik dan penerangan pada malam hari, masyarakat kemudian
mengungkapkan kegembiraannya sebagaimana diekspresikan AFU kepada General
Manajer (GM) PLN wilayah Papua dan Papua Barat “Kutik Di Dinding, Manyala (menyala)
Di Loteng“, disambut tepuk tangan dan gelak tawa gembira.
Ungkapan masyarakat “Kutik
Di Dinding, Menyala Di Loteng“ menunjukkan sebuah perjalanan harapan panjang
adanya penerangan permanen sejak puluhan
bahkan ratusan tahun lalu, dan secara nyata sejak adanya Kabupaten Raja Ampat
tahun 2003, dimana masyarakat di pulau-pulau menanti adanya uluran tangan
pemerintah yang menghadirkan negara di tengah-tengah masyarakat.
Ungkapan “kutik di
dinding, menyala di loteng “ juga mengekspresikan adanya sebuah perubahan
perilaku dari membakar lampu pelita, petromax hingga menyalakan genset yang
jika sebelumnya tidak ada listrik diupayakan sendiri dengan instalasi seadanya,
namun sekarang, cukup dengan menekan tombol di dinding, lampu sudah menyala
menerangi seisi rumah.
Masyarakat tak lagi
harus menyediakan bahan bakar, tak lagi harus mengupayakan genset dan melakukan
instalasi. Semuanya telah tersedia, cukup
“kutik di dinding, menyala di loteng“, walau hanya untuk malam hari dan
kegiatan khusus.
“Ketersediaan listrik
tak hanya untuk kebutuhan masyarakat kampung saja, namun merupakan kebutuhan
dasar yang telah ikut menopang industri Pariwisata, dan menjadi salah satu
jaminan adanya investasi kepariwisataan di Kabupaten Raja Ampat,” kata Abdul
Faris Umlati.
Misi Raja Ampat
Terang dengan menghadirkan PLN telah ikut memberi andil adanya penghematan dana
sebesar Rp. 70 miliar per tahun dari dana PLTD, untuk dipergunakan membayar
gaji honorer sebanyak 4.600 orang, dan menghidupkan roda pemerintahan di Kabupaten
Raja Ampat.
Misi Raja Ampat
Terang akan diteruskan AFU pada periode ke dua kepemimpinnya sebagai Bupati
Raja Ampat 2020-2025, berpasangan dengan Orideko Iriano Burdam, untuk
mewujudkan ketersediaan listrik di 117 kampung.
Pemda Raja Ampat dan
PLN menjaga terus menjaga hubungan baik dengan membangun silaturahmi. Pada
tanggal 8 Januari 2021, General Manager PLN Papua dan Papua Barat, Abdul Farid
dan romobongan, berkunjung ke Waisai dan disambut hangat Bupati Abdul Faris
Umlati, SE, di Jetty AFU Resort, Waisai.
GM PLN, Abdul Farid,
bangga bisa mengawali kepemimpinan AFU Jilid II dan bertekad memajukan Raja
Ampat melalui kelistirikan untuk mendukungan investasi kepariwisataan Raja
Ampat, dan berharap tuntas lebih cepat dengan berbagai macam model layanan untuk
membuat terang Raja Ampat.
54 kampung sudah
dialiri listrik, 10 kampung sedang dalam progres pembangunan PLTS sebesar 710 Kwp
yang direncanakan diselesaikan Pebruari 2021, sementara 8 kampung dalam proses
relokasi mesin, dan 37 kampung sudah disurvei untuk dibangun PLN.
Dengan adanya rencana
yang dilakukan PLN, maka kampung yang belum dimasuki PLN sebanyak 45 kampung,
yang tentunya akan dilakukan survey dan dialiri listrik guna terwujudnya misi “Raja
Ampat Terang“.
Abdul Faris Umlati, SE, sosok pemimpin yang tak banyak bicara namun lebih banyak bekerja dalam diam untuk mewujudkan Raja Ampat Terang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di surga terakhir di bumi, “Kutik Di Dinding, Menyala Di Loteng. (Joris)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar