NATUNA - wartaexpress.com - Dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera tahun 2021, Pangkalan TNI AL Ranai gelar upacara, bertempat di Dermaga Posal Penagi pada Jumat pagi (15/01/21). Upacara dipimpin langsung oleh Komandan Pangkalan TNI AL (Danalanal) Ranai, Kolonel Laut (P) Dofir, dan diikuti oleh seluruh anggota Lanal Ranai.
Dalam kesempatan
tersebut Danlanal Ranai, Kolonel Laut (P) Dofir mengajak para peserta upacara
untuk mengenang kembali Sejarah Pertempuran Laut yang melatar belakangi
diperingati Hari Dharma Samudra.
Dirinya menceritakan,
bahwa terdapat beberapa peristiwa Pertempuran Laut yang penuh semangat heroik
dan patriotik yang perlu diteladani. Peristiwa Pertempuran Laut di Selat Bali
pada tanggal 4 April 1946 antara perahu rombongan ekspedisi Bali pimpinan
Markadi dengan 2 buah LCM Belanda.
Peristiwa pertempuran
laut di Laut Cirebon pada tanggal 5 Januari 1947 antara Kapal Gajah Mada dengan
kapal Belanda H.R.M.S Cortenaer. Peristiwa pertempuran laut didekat Pulau
Panikian pada tanggal 17 Februari 1947 antara rombongan ekspedisi Sulawesi
pimpinan Kapten Laut Hasan Ralla dan Letnan Satu A.A. Rifai dengan pihak
Belanda.
Peristiwa pertempuran
laut di perairan Pulau Sapudi pada tanggal 13 April 1947 antara rombongan
ekspedisi Sulawesi pimpinan Kapten Laut Harianto dengan pihak Belanda.
"Para pemuda pejuang kita telah mengadakan perlawanan terhadap kapal patroli Belanda yang bersenjata lengkap, mereka berjuang tanpa pamrih demi tegaknya kemerdekaan," ujar Danlanud Kolonel Laut (P) Dofir mengobarkan semangat.
Namun sebagian dari
pemuda itu akhirnya gugur sebagai patriot kusuma bangsa. Jiwanya masih tetap
hidup dan membangkitkan semangat juang bagi yang ditinggalkan, semangat juang
sebagai bangsa yang memiliki harga diri.
Selanjutnya pada
tanggal 28 April 1958 telah terjadi pertempuran antara R.I Hang Tuah dengan
sebuah pesawat terbang musuh yang dipiloti penerbang asing Allan Pope di sekitar
perairan Balikpapan. Walaupun akhirnya kapal beserta delapan belas awak kapal
tenggelam, namun mereka telah mengadakan perlawanan yang tidak kenal menyerah.
Pada tanggal 15
Januari 1962 tiga Kapal Cepat Torpedo R.I Macan Tutul, Macan Kumbang dan
Harimau yang telah melaksanakan operasi infiltrasi dalam rangka perjuangan
mengembalikan Irian Barat.
Ketika berada di posisi
04 derajat sampai 09 menit Lintang Selatan dan 135 derajat sampai 02 menit
Bujur dengan haluan 239, telah dikelilingi dua pesawat terbang jenis Neptunedan
Firefly milik Belanda.
Pada radar kapal
didapat gema adanya dua buah kapal bergerak menuju ke arah iringan kapal kita yang
kemudian dapat diketahui bahwa dua kapal tersebut adalah jenis Destroyer,
tiba-tiba kapal tersebut menembakan peluru suar ke arah kapal-kapal kita,
sesaat kemudian air bersemburan yang berarti musuh melepaskan tembakan peluru
tajam disusul dijatuhkannya peluru suar oleh pesawat terbang sehingga keadaan
menjadi terang benderang.
Dalam keadaan demikian Komodor Yos Soedarso yang pada waktu itu telah berada di R.I Macan Tutul mengambil alih pimpinan dan segera memerintahkan serangan tembakan balasan dan mengadakan manuvra perkawanan.
Dengan gerakan
serangan sedemikian rupa sehingga tembakan musuh tersebut terpusat kepada R.I
Macan Tutul, dengan demikian dua kapal yg lain dapat diselamatkan. Manuvra ini
berhasil tetapi juga mengakibatkan tenggelamnya R.I Macan Tutul. Melalui radio
telepon Komodor Yos Soedarso menyampaikan pesan tempurnya "Kobarkan
Semangat Pertempuran". Gugurlah Komodor Yos Soedarso, Kapten Memet
Sastrawirya, Kapten Wiratno beserta dua puluh lima awak kapal.
"Sebuah
pertempuran yang tidak saja penuh heroisme dan patut dicontoh, tetapi juga
mengandung The Art a Battle yang
membanggakan sejarah rakyat dan bangsa Indonesia," lanjut Kolonel Laut (P)
Dofir.
Kini bagi kita yang
ditinggalkan tiada jalan lain kecuali menghayati akan peristiwa-peristiwa
pertempuran laut itu demi memupukan rasa harga diri, tak kenal menyerah
disertai sikap mental tanpa pamrih demi tegaknya kemerdekaan dengan rasa
bangga. Marilah kita renungkan akan pengabdian itu untuk melanjutkan perjuangan
mengisi kemerdekaan.
Pada upacara tersebut
Komandan Lanal Ranai Kolonel Laut (P) Dofir membacakan amanat Kepala Staf TNI
Angkata Laut Laksamana TNI Yudo Nargono, SE, MM, sebagai bangsa maritim yang
besar, para pejuang laut sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara selalu
berjuang dengan tegar menghadapi bangsa penjajah yang ingin menjarah bumi
pertiwi. Darah, keringat dan air mata para pahlawan pejuang laut menetes di
laut nusantara demi kemerdekaan yang kita nikmati bersama saat ini. Armada Adipati
Unus dan Fatahillah dari Kesultanan Demak harus menghadapi kekuatan Portugis.
Demikian juga Laksamana
Malahayati dengan semangatnya memimpin perlawanan terhadap armada Portugis dan Belanda
di Malaka. Perjuangan laut ini terus diikuti para kesatria samudera lainnya
dari berbagai daerah di Nusantara, Kerajaan, Kesultanan Mataram, Kesultanan
Gowa, hingga Kesultanan Tidore.
Mendidihnya gelora darah pejuang laut nusantara ini, tetap mengalir di tubuh prajurit Angkatan Laut Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Berbagai pertempuran dan medan laga di laut telah banyak dilalui oleh Jalasena Kusuma Bangsa.
Masa-masa kejayaan
corps armada sampai kepada masa Dwikora dan Trikora, hingga puncaknya adalah
lima puluh sembilan tahun silam, tepatnya 15 Januari 1962, Laut Arafuru telah
menjadi saksi bisu pengorbanan perjuangan para Pahlawan Laut Indonesia dalam
mempertahankan kemerdekaan, yang ditandai dengan seruan penuh semangat dan
gagah berani oleh Komodor Yos Sudarso, yaitu "Kobarkan semangat pertempuran,
yang mengiringi perlawanan R.I Matjan Tutul menghadang armada Belanda.
“Semangat bertempur
dan pantang menyerah prajurit R.I Matja Tutul tersebut seolah tak pudar di hati
para prajurit laut. Untuk itu, sudah sewajarnya dan seharusnya kita menghargai
dan menjunjung tinggi semangat kepahlawanan para Kesatria Samudera pembela
negara. Peringatan Hari Dharma Samudera kali ini pada hakekatnya merupakan
refleksi penghargaan yang tinggi kepada seluruh pahlawan samudera nusantara
yang telah mengorbankan jiwa dan raga guna merebut dan mempertahankan
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Kolonel Laut (P)
Dofir.
Peringatan Hari Dharma
Samudera sedianya akan dilaksanakan secara terpusat di Kepulauan Natuna, namun
dengan adanya musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan
Seribu, maka wacana tersebut berubah.
Perubahan tersebut
merupakan wujud empati dalam rangka memfokuskan kekuatan alutsista dan personel
TNI Angkatan Laut untuk mendukung operasi pencarian dan pengangkatan pesawat Sriwijaya
Air SJ-182.
TNI Angkatan Laut
bersama-sama dengan instansi pemerintah lainnya secara cepat telah mengerahkan
segala daya dan upaya berupa alutsista dan personel dalam pencarian korban,
badan pesawat dan Black Box Sriwijaya Air. Respon cepat satuan TNI Angkatan
Laut yang tergelar di lapangan ini, merupakan wujud nyata kehadiran (sea
presence) TNI Angkatan Laut yang selalu siap siaga dalam memenuhi panggilan tugas.
Hal ini juga membuktikan efektifitas kekuatan TNI Angkatan Laut sebagai sebuah kekuatan yang siap dioperasionalkan (operational ready force) yang bertumpu pada sistem senjata armada terpadu (SSAT) yang terdiri dari kapal perang, pesawat udara, Korps Marinir serta pangkalan telah terbukti, baik pada operasi militer untuk perang (OMP) maupun pada situasi penanganan pandemi Covid-19 dan SAR seperti saat ini, yang termasuk dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP). (S.Utomo)




BalasHapusAJOQQ menyediakan permainan poker,domino, bandarq, bandarpoker, aduq, sakong, bandar66, perang bacarat dan capsa :)
ayo segera bergabung bersama kami dan menangkan uang setiap harinya :)
AJOQQ juga menyediakan bonus rollingan sebanyak 0.3% dan bonus referal sebanyak 20% :)
WA;+855969190856