KUBU RAYA - wartaexpress.com - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), H. Sutarmidji, SH, M.Hum, menghadiri kegiatan Customer Smelter dan Stakeholder Gathering di Kantor PT. PLN Unit Induk Wilayah Kalbar, Jalan Adisucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (24/6/2021).
Dalam sambutannya
Gubernur Kalbar mengungkapkan, bahwa pertumbuhan ekonomi satu daerah itu
pendorong utamanya adalah energi atau listrik. Baik menggunakan penggerak listrik
apapun itu sangat dibutuhkan di Provinsi Kalbar, sebab provinsi yang dilalui
garis khatulistiwa ini, memiliki Sumber Daya Alam (SDA) cukup besar, terutama
bauksit dengan smelter yang harus dibangun seusai dengan aturan yang ada.
"Kalbar, SDA-nya
cukup besar, terutama bauksit dengan smelter-smelter yang harusnya beberapa
sudah dibuat, sekarang baru ada dua. Harusnya sudah ada tujuh sampai delapan
smelter di Kalbar, kalau kita lihat dari data perusahaan yang mendapat kuota
ekspor bauksit mentah, mereka wajib membangun smelter. Nah, ini pasti
membutuhkan tenaga penggerak atau energi listrik yang cukup besar dan kita juga
punya pelabuhan internasional yang akan terus berkembang. Apalagi pelabuhan
kita dicanangkan termasuk yang terbesar, pasti ada kawasan industri dan pasti
akan berkembangnya kawasan industri di sana," ungkap Gubernur Kalbar.
Menurutnya, dengan
adanya pembangunan wilayah industri di Kalbar, pasti membutuhkan energi listrik
seefisien mungkin dalam penyediaannya atau menggunakan listrik jika perusahaan
smelter tersebut menyiapkannya. Meskipun
demikian, perusahaan smelter itu akan tidak mengalami efisien sebab menghitung
biaya operasional lebih jauh mahal dibandingkan dengan menggunakan listrik dari
PT. PLN yang disediakan oleh negara.
"Pasti membutuhkan
energi listrik seefisien apapun dihitung, menyediakan atau menggunakan listrik
sendiri tetap akan lebih efisien dan ekonomis apabila menggunakan listrik dari
PT. PLN. Apalagi dihitung dari investasi, pemeliharaan dan sebagainya. PT. PLN
Kalbar kita harapkan kedepannya punya sumber energi yang murah, kalau perlu
sampai yang ekstrim misalnya nuklir, kalau negara Malaysia menggunakan hydro.
Kita sebenarnya bisa, ada beberapa yang menggunakan itu, tapi kapasitasnya
terbatas, saya berharap ke depan, smelter-smelter yang dibangun itu, listriknya
bisa disiapkan PLN, dengan hitungan ekonomis untuk pengolahan bauksit menjadi
alumina, kalau perlu menjadi alumunium," tuturnya.
Lanjut Gubernur Kalbar
menambahkan, untuk saat ada 332 desa yang belum teraliri listrik di Provinsi
Kalbar yang disebabkan topografinya dan geografisnya sangat sulit dicapai PT.
PLN.
"Desa ini
setidaknya ada 332 yang belum teraliri listrik, kalau tahun ini, 76 yang dapat
teraliri, artinya masih ada 256 yang belum teraliri listrik, saya harap tahun
depan atau dua tahun lagi bisa selesai. Karena ada 154 desa yang tidak mungkin
menggunakan aliran listrik PLN konvensional, karena jaraknya terlalu jauh. Saya
harap ini ada percepatan, karena kalau listrik masuk desa, mungkin ada industri
di desa yang bisa berkembang, karena ke depan ada beberapa kegiatan di desa,
apalagi nanti desa itu dikembangkan untuk sektor pertanian dan perkebunan yang
membutuhkan pengolahan," harapnya.
Dirinya pun, memberikan
satu contoh permasalahan yang dialami di tengah masyarakat. Kita contohkan
pengembangaan tanaman talas di lahan gambut, talas itu seperti di Singkawang
yang mampu menghasilkan 7 kg per buah, ini paling efektif diolah menjadi
tepung. Pengolahan tepung talas memerlukan energi atau tenaga penggerak yang
pastinya menggunakan tenaga listrik. Banyak hal lainnya, seperti olahan
aloevera, ini juga memerlukan listrik.
Dikatakan Gubernur,
bahwa di Kapuas Hulu itu ada pengolahan kratom dan sebagainya. Banyak industri
di desa yang harusnya bisa berkembang untuk mendukung UMKM. Ini yang harus juga
dipikirkan, selain smelter atau pabrik CPO, yang tak kalah penting yaitu
kebutuhan masyarakat untuk mengembangkan potensi desanya menjadi barang jadi
atau setengah jadi. Banyak sekali kegiatan usaha yang memerlukan tenaga listrik
PLN, misalkan kemudian hari untuk pengelolaan perikanan dan peternakan.
“Saya bertekad, selama
saya menjabat Gubernur, Kalbar yang selalu menjadi nomor empat sebagai
penyumbang PDRB di Kalimantan, harus meningkat. Dengan potensi yang kita miliki
ini sangat besar dan sekarang kita sudah nomor dua, kita masih kalah dari
Kaltim. Kalau misalnya berdiri beberapa smelter, ada pelabuhan dan ekspor CPO
yang tercatat di Kalbar, saya rasa antara Kalbar dan Kaltim akan berimbang,
walaupun selisihnya sekarang masih cukup tinggi, saya lihat ke depan akan
berimbang. Saya lihat pertumbuhan ekonomi Kalbar, di triwulan pertama
se-Kalimantan tumbuh lebih baik dibandingkan provinsi di Kalimantan lainnya.
Perkiraan saya triwulan kedua akan tumbuh kurang lebih antara 3-4 persen atau
positif. Saya berharap dengan tersedianya energi listrik dari PLN, kegiatan
usaha dan industri baik yang besar maupun kecil, terus berkembang di
Kalbar," tegasnya.
Kegiatan Customer Smelter dan Stakeholder Gathering di Kantor PT. PLN Unit Induk Wilayah Kalbar ini menggambil tema 'PLN Siap Mendukung Investasi Di Sektor Pertambangan', yang turut dihadiri Muhammad Ikbal Nur selaku Direktur Bisnis Regional Sumatera dan Kalimantan PT. PLN. (Rls/danil)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar