BANDUNG - wartaexpress.com - Di Jawa Barat ada hampir 6.000 desa, atau sekitar 5.900-an lebih dari seribunya sudah disinggahi oleh Kang Haji (Kang Dedi). Seribuan desa tentu saja bukan jumlah yang sedikit. Gubernur dan wakilnya saja belum tentu telah mengunjungi desa sebanyak itu selama memimpin.
Dan Kang Haji melakukannya justru saat dia hanya seorang yang pernah jadi bupati dari sebuah kabupaten terkecil di Jabar. Dari track recordnya, sosok ini memang senang mengembara, jajal desa milang kori.
Ia turun gunung naik
gunung, berjalan menyusuri galeng-galeng pesawahan Jabar, menceburkan diri
dalam lumpur sawah, menyusuri pantai, menyusuri gang-gang sempit, bahkan biasa
tanpa alas kaki.
Ya begitulah karakteristik urang lembur, mencintai alam dan menyatu dengan denyutnya. Dan seperti tidak ada lelahnya ia terus ke sana ke mari, sejak lama hingga saat ini.
Lalu apa saja yang ia
lakukan selama nyusruk lembur itu? Tentu saja banyak, bagi yang sering
mengikuti perjalanannya, baik langsung maupun tidak, apa yang ia lakukan itu
sudah biasa, dan sudah menjadi ciri khas yang membedakannya dari sosok-sosok
lain.
Jika sosok-sosok lain
melakukan sebagian dari tindakan Kang Dedi itu belakangan saja, dan hanya
sekali-kali saja, maka Kang Haji mah sudah sejak lama melakukannya dan sering
berulang-ulang, spontan dan tanpa settingan.
Benang merah dari yang
ia lakukan itu adalah menerapkan ajaran Islam yang luhur, "nulung kanu
butuh, nalang kanu susah, nyaangan kanu poekeun, nganteur kanu sieun."
Ia sering menemui orang-orang susah sekadar untuk mengobrol dan membantu sebagian masalah mereka. Seperti dengan para janda tua yang sering ia hibur dan bantu. Ada banyak peristiwa di mana Kang Haji berinteraksi, menghibur dan membantu para janda tua yang sedang susah. Kalangan ini sangat sering diperhatikan oleh Kang Haji.
Mengapa Kang Haji
sering membantu para janda tua? Ternyata ini karena ia teringat ibundanya. Ia
pernah berjanji kepada ibunya yang sudah wafat, untuk membantu para perempuan
tua yang seusia dengan ibunya, dan takkan berhenti selagi ia masih mampu
melakukannya.
Bagi saya pribadi, di
antara tindakan Kang Haji yang sangat menyentuh dan bikin terenyuh, adalah ini.
Kepedulian dan kasih sayangnya kepada para perempuan tua yang berharap kasih
sayang dari orang-orang yang masih kuat dan berdaya.
Di antara para emak tua itu ada yang sudah terpisah dari anak cucunya, hidup sebatangkara. Ada yang masih berusaha menafkahi dirinya walau dengan penghasilan tak seberapa. Ada yang mengandalkan kasih sayang orang-orang sekitar. Ada juga yang sedang bermasalah dengan anak cucunya, dan lain sebagainya.
Kecintaan dan kasih
sayangnya pada ibundanya itulah yang menggerakkannya untuk terus berbuat baik
kepada para perempuan tua, emak-emak renta yang berharap kebaikan dari
sesamanya. Gapura Indung Rahayu di Purwakarta yang ia bangun juga karena
inspirasi dan penghormatannya pada sosok ibunya yang sangat mendalam.
Maka lihatlah bagaimana Kang Haji berbicara, bercengkrama, dan menghibur para janda tua. Gesturnya alami, tidak jaim, tidak dibuat-buat. Ini karena ia menganggap mereka layaknya ibunya yang sangat dihormati dan disayangi.
Karena Nabi bersabda,
"Surga berada di bawah telapak kaki ibu." Dan para orang tua kita
dulu mengajarkan, "Indung tunggul rahayu, bapak tangkal darajat."
Inilah the power of mother's love. Kekuatan cinta seorang ibu. Indung tunggul rahayu. Maka cinta kasih ibu menyebar kepada sesamanya. (Catatan Mahya Lengka/Pena Sukma)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar